Beranda Berita Pati Sempat Tak Sadarkan Diri Usai Santap MBG, Siswa SMPN 1 Gembong Bikin...

Sempat Tak Sadarkan Diri Usai Santap MBG, Siswa SMPN 1 Gembong Bikin Ibu Panik dan Trauma

0
0 0
Read Time3 Minute, 23 Second

PATI – Kepanikan menyelimuti sejumlah keluarga siswa setelah muncul dugaan keracunan makanan di sejumlah sekolah di Kecamatan Gembong, Kabupaten Pati. Salah satu orang tua siswa, Andira, harus menghadapi situasi yang membuatnya cemas setelah mengetahui anaknya mengalami kondisi serius hingga sempat tidak sadarkan diri.

Andira merupakan ibu dari salah satu siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Gembong yang diduga menjadi korban. Anaknya harus mendapatkan penanganan medis setelah mengalami sejumlah keluhan kesehatan.

Andira mengaku terlambat mengetahui kondisi anaknya karena sedang bekerja sif malam. Kabar mengenai kondisi sang anak baru diterimanya melalui telepon.

“Saya dapat kabar itu sudah termasuk telat ke sini. Posisi anak saya sudah ditangani di sini, sudah dipasangi oksigen dan segalanya,” ujar Andira saat ditemui di RSUD RAA Soewondo Pati, Kamis (10/9/2026).

Sesampainya di rumah sakit, Andira mendapati anaknya dalam kondisi tidak sadarkan diri. Tubuh anaknya terasa sangat dingin dan tidak memberikan respons seperti biasanya.

Dokter kemudian meminta Andira mencoba berkomunikasi dengan anaknya.

Andira pun berusaha mengajak anaknya berbicara dengan harapan sang anak memberikan respons.

“Coba diajak komunikasi, kayak ikatan batin,” tutur Andira, menirukan pesan dokter kepadanya.

Perlahan, kondisi anaknya mulai menunjukkan perubahan. Tubuh yang sebelumnya terasa dingin mulai menghangat. Bahkan, air mata sempat keluar dari mata sang anak.

Namun setelah sadar, anak Andira masih mengalami gangguan. Ia mengaku suara di sekitarnya terdengar seperti hilang dan kemudian muncul kembali.

Sebelum mendapatkan perawatan, sang anak rupanya telah mengalami gangguan pencernaan sejak sore hari. Ia mengalami diare sebanyak tiga kali.

Saat itu, sang anak mengira kondisi tersebut hanya disebabkan kelelahan.

“Mungkin aku kecapekan mungkin ya, Bun,” kata anaknya kepada Andira kala itu.

Selain diare, anaknya juga merasakan mual. Namun, ia tidak sampai muntah karena mengaku tidak bisa muntah.

Keesokan paginya, sang anak masih berangkat sekolah. Bahkan sebelum berangkat, ia kembali mengalami buang air besar.

Andira mengatakan, sebelum kejadian tersebut kondisi anaknya dalam keadaan sehat.

“Sehat, sehat banget. Enggak ada gimana-gimana,” katanya.

Setelah mengalami kejadian tersebut, anak Andira juga mulai merasa trauma terhadap makanan Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diterimanya di sekolah.

Sang anak bahkan mengungkapkan rasa takut untuk kembali mengonsumsi makanan tersebut.

“Duh, bikin trauma kayak gitu MBG-nya,” ujar Andira menirukan perkataan anaknya.

Sebagai orang tua, Andira mengaku tidak bisa memaksakan anaknya untuk kembali mengonsumsi makanan tersebut. Menurutnya, kondisi psikologis anak juga perlu diperhatikan setelah mengalami kejadian yang membuatnya takut.

Meski demikian, Andira tidak serta-merta meminta program MBG dihentikan. Ia memahami bahwa banyak pihak yang menggantungkan penghasilan dari pelaksanaan program tersebut.

Namun, ia meminta adanya evaluasi agar makanan yang diberikan kepada siswa benar-benar aman dan layak dikonsumsi.

Andira juga berharap tidak ada kecurangan dalam proses penyediaan makanan untuk siswa. Pihak yang bertanggung jawab diminta memastikan makanan yang dibagikan benar-benar layak sebelum sampai ke tangan anak-anak.

“Benar-benar dipastikan itu layak untuk dikonsumsi anak,” harapnya.

Menurut Andira, orang tua pada dasarnya hanya bisa menerima makanan yang diberikan kepada anak. Karena itu, kualitas dan keamanan makanan menjadi tanggung jawab pihak yang menyiapkan dan mendistribusikannya.

Ia juga menyinggung waktu distribusi makanan yang disebut beberapa kali terlambat.

Berdasarkan informasi yang diterimanya dari sang anak, makanan yang diterima pada kejadian tersebut sudah terlambat. Bahkan, makanan disebut sudah dalam kondisi kering.

“Makanan sudah ketutup daun pisang, terus dibakar,” kata Andira.

Meski sempat mengalami kondisi serius hingga tidak sadarkan diri, keadaan anak Andira kini berangsur membaik. Saat ditemui, anaknya sudah tidak lagi menggunakan oksigen dan dapat berkomunikasi.

Meski demikian, keluhan pada bagian perut masih dirasakan. Anak tersebut masih mengalami sakit perut dan mual, tetapi tidak bisa muntah.

“Sudah lebih baik, sudah lepas oksigen,” ujar Andira.

Bagi Andira, kejadian tersebut menjadi pengalaman yang tidak mudah dilupakan. Sebagai seorang ibu, melihat anaknya tak sadarkan diri setelah sebelumnya dalam kondisi sehat menjadi pengalaman yang menimbulkan kekhawatiran sekaligus trauma.

Ia berharap dugaan keracunan yang terjadi di Gembong, Pati, dapat menjadi bahan evaluasi serius bagi semua pihak.

Menurutnya, program MBG bukan hanya harus memastikan makanan bergizi tersedia bagi siswa, tetapi juga menjamin setiap makanan yang sampai ke tangan anak-anak benar-benar aman untuk dikonsumsi.

“Ya, perlu. Itu kan dari atasan-atasan harusnya. Kita sebagai orang tua cuma bisa pasrah untuk menerima yang layak,” pungkasnya.

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini