PATI – Suara gong dan kendang mengalun dari halaman punden Mbah Wiropadi di Desa Pasucen, Kecamatan Trangkil, Kabupaten Pati, Minggu (21/6). Di tengah arena pertunjukan, dua lelaki berpakaian serba hitam saling berhadapan memperagakan gerakan yang memadukan unsur pencak silat dan seni tari.
Pertunjukan itu merupakan bagian dari pementasan Gongcik, kesenian tradisional khas Pati yang hingga kini masih bertahan di tengah derasnya arus modernisasi. Kesenian yang menggabungkan unsur bela diri, tari, dan musik tradisional tersebut kembali ditampilkan dalam rangka haul Mbah Wiropadi dengan mengusung tema “Seni Tradisi Belum Mati”.
Sebanyak delapan pendekar dewasa dan 12 pendekar cilik tampil menunjukkan keterampilan mereka di hadapan masyarakat yang memadati lokasi acara. Penampilan para pendekar menjadi bukti bahwa regenerasi pelaku seni tradisi masih terus berjalan.
“Kami sengaja menggelar pentas gongcik agar masyarakat tahu kalau kesenian tak akan punah ketika masyarakat peduli dan generasi muda mau mewarisinya,” ujar salah satu pelestari Gongcik, Ahmad Faozi.
Bagi masyarakat Pasucen, Gongcik bukan sekadar hiburan. Kesenian tersebut telah menjadi bagian dari identitas budaya sekaligus warisan leluhur yang diwariskan secara turun-temurun.
Menurut cerita yang berkembang di masyarakat, Gongcik lahir pada masa penjajahan Belanda. Saat itu, rakyat dilarang mempelajari seni bela diri. Untuk menghindari pengawasan penjajah, latihan silat kemudian dikemas dalam bentuk pertunjukan seni yang diiringi musik gamelan. Dari proses itulah lahir perpaduan antara gerak pencak silat, tarian, dan musik tradisional yang kini dikenal sebagai Gongcik.
Nama Gongcik sendiri berasal dari dua unsur. Kata “gong” merujuk pada instrumen gamelan yang menjadi pengiring utama pertunjukan, sedangkan “cik” berasal dari istilah encak-encik yang merujuk pada gerakan silat Jawa.
Musik pengiring Gongcik sekilas menyerupai iringan barongan, meski memiliki karakteristik tersendiri. Alat musik yang digunakan antara lain gong, bonang atau yang oleh warga Pasucen disebut ningnong, kendang, dan jidor.
“Tak hanya di musik yang membedakan. Gongcik juga telah digarap secara koreografinya meski tidak meninggalkan dasar-dasar beladiri,” terangnya.
Di tengah tantangan perkembangan zaman, para pelestari Gongcik terus berupaya menjaga keberlangsungan kesenian tersebut. Mereka rutin menggelar latihan, mengajak anak-anak dan remaja untuk bergabung, serta menampilkan Gongcik dalam berbagai kegiatan budaya dan tradisi masyarakat.
“Kami berupaya menggelar pentas gongcik secara rutin mulai dari acara suro, mulud, serta Apit,” imbuhnya.
Upaya tersebut menjadi harapan agar Gongcik tetap hidup dan tidak sekadar menjadi cerita masa lalu. Melalui regenerasi dan keterlibatan masyarakat, kesenian tradisional khas Pati itu terus menunjukkan eksistensinya sebagai warisan budaya yang masih memiliki tempat di tengah kehidupan masyarakat.








































