Wartapati.com – Setiap memasuki hari kedelapan bulan Syawal, masyarakat Jawa merayakan momen yang dikenal sebagai Bakda Kupat. Di meja makan, dua hidangan ikonik selalu bersanding: Kupat dan Lepet. Namun, tahukah Anda bahwa duet kuliner ini merupakan strategi dakwah jenius dari abad ke-15?
Jejak Sejarah di Tanah Jawa
Disadur dari berbagai sumber, tradisi ini pertama kali dipopulerkan oleh Sunan Kalijaga, salah satu tokoh Wali Songo yang dikenal sangat piawai mengasimilasi ajaran Islam ke dalam budaya lokal. Saat itu, beliau memperkenalkan dua tahap perayaan kemenangan.
Pertama adalah Bakda Lebaran yang jatuh pada 1 Syawal, dan kedua adalah Bakda Kupat yang dirayakan seminggu kemudian setelah umat Muslim menyelesaikan puasa sunnah enam hari di bulan Syawal.
Kupat: Ngaku Lepat
Secara filosofis, nama Kupat merupakan kependekan dari frasa bahasa Jawa, yaitu Ngaku Lepat yang berarti “mengaku bersalah”.
Penggunaan janur (daun kelapa muda) sebagai pembungkus pun bukan tanpa alasan. Kata “Janur” diyakini berasal dari serapan bahasa Arab, Ja’a Nur, yang berarti “telah datang cahaya”.
Anyaman janur yang rumit dan saling tumpang tindih melambangkan kerumitan dosa dan kesalahan manusia. Namun, ketika ketupat dibelah, terlihat bagian dalam yang putih bersih, melambangkan kesucian hati setelah saling memaafkan.
Lepet: Silep Kang Rapet
Jika Kupat adalah pengakuan dosa, maka Lepet adalah komitmen untuk melangkah maju. Nama Lepet berasal dari kalimat Silep Kang Rapet yang bermakna “tutup yang rapat”.
Hidangan yang terbuat dari ketan, santan, dan kacang ini dibungkus janur lalu diikat kuat dengan tali bambu atau benang.
Secara simbolis, ini adalah pesan agar setelah kita mengakui kesalahan (ngaku lepat), kita harus menutup rapat-rapat aib atau kesalahan masa lalu tersebut dan tidak lagi mengungkitnya. Tekstur ketan yang lengket juga melambangkan eratnya persaudaraan dan silaturahmi yang tidak boleh terputus.
Relevansi di Era Modern
Hingga saat ini, tradisi Kupat Lepet tetap menjadi simbol kohesi sosial yang kuat, terutama di wilayah pesisir Jawa seperti Pati, Kudus, hingga Rembang. Di tengah gempuran kuliner modern, ketupat dan lepet tetap bertahan sebagai pengingat bahwa kemenangan sejati bukan hanya tentang perayaan, tetapi tentang keberanian mengakui kesalahan dan ketulusan untuk mengubur dendam.
Pesan Moral
Melalui sebutir kupat dan seikat lepet, para leluhur mengajarkan bahwa perdamaian dimulai dari kerendahan hati untuk meminta maaf dan kebesaran jiwa untuk melupakan kesalahan orang lain.











































