PATI – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pati memastikan seluruh biaya pengobatan siswa yang diduga mengalami keracunan setelah menyantap Makan Bergizi Gratis (MBG) ditanggung pemerintah daerah.
Plt Bupati Pati Risma Ardhi Chandra mengatakan, informasi mengenai kejadian tersebut diterima Pemkab Pati pada Kamis pagi. Korban disebut berasal dari SMPN 1 Gembong dan MTsN 3 Pati dengan jumlah sekitar 200 siswa.
“Tadi pagi kami mendapatkan informasi kurang baik tentang program Makan Bergizi Gratis. Ada korban keracunan dari SMPN 1 Gembong dan MTsN 3 Pati. Korbannya ada sekitar 200 anak,” kata Chandra.
Menurutnya, berdasarkan informasi terakhir yang diterima pada Rabu malam, sekitar 45 siswa masih menjalani rawat inap di RSUD RAA Soewondo Pati dan Rumah Sakit Mitra Bangsa.
Pemkab Pati, lanjut Chandra, terus melakukan koordinasi dengan pihak sekolah dan rumah sakit untuk memastikan kondisi para siswa mendapat penanganan.
“Kami terus berkoordinasi dengan kepala sekolah, dengan perawat, dengan direktur Rumah Sakit Soewondo untuk terus berkoordinasi,” ujarnya.
Selain memantau siswa yang menjalani perawatan di rumah sakit, Pemkab Pati juga menerjunkan tenaga kesehatan untuk mendatangi rumah siswa. Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan siswa yang masih mengalami keluhan setelah pulang atau menjalani perawatan di rumah tetap mendapatkan penanganan.
“Kami juga menerjunkan tenaga kesehatan untuk datang langsung ke rumah-rumah siswa tadi. Misalkan ada masih terjadi sakit, kita minta tenaga kesehatan untuk datang ke rumah siswa-siswa tadi,” jelasnya.
Chandra menyampaikan permohonan maaf kepada para orang tua siswa dan masyarakat Kabupaten Pati atas kejadian tersebut. Ia memastikan pemerintah daerah akan berupaya menangani kondisi para siswa secepat mungkin.
” Sekali lagi mohon maaf kepada orang tua murid, kepada masyarakat Kabupaten Pati. Kami akan terus berupaya masalah ini bisa tertangani dengan segera dan masalah pengobatan semua ditanggung oleh Pemerintah Kabupaten Pati,” tegasnya.
Pemkab Pati juga akan terus memantau perkembangan kondisi siswa yang terdampak hingga proses penanganan berjalan optimal.









































