PATI – Pemerintah Kabupaten Pati terus memperkuat penanganan kekeringan yang melanda sejumlah wilayah. Selain mengandalkan distribusi air bersih menggunakan tangki, Pemkab Pati tengah menyiapkan tambahan anggaran agar jumlah bantuan air dapat ditingkatkan secara signifikan.
Plt. Bupati Pati Risma Ardhi Chandra mengatakan, saat ini Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pati telah mendistribusikan sekitar enam hingga delapan tangki air bersih setiap hari ke wilayah terdampak kekeringan.
Menurut dia, jumlah tersebut diharapkan dapat ditingkatkan hingga 48 tangki per hari dengan memanfaatkan anggaran Belanja Tak Terduga (BTT).
“Kekeringan di Pati ini sudah kita antisipasi. Teman-teman dari BPBD sudah kita kirim antara enam sampai delapan tangki tiap hari. Ini baru kami rumuskan untuk yang BTT,” ujar Chandra, Senin (7/9/2026).
Ia menyebut, Pemkab Pati saat ini masih melakukan pembahasan agar anggaran BTT dapat segera dicairkan untuk memperkuat penanganan bencana kekeringan.
“Harapan kami ada anggaran yang bisa kita luncurkan untuk tangki ini bisa sampai 48 tangki tiap hari. Ini baru kami rapatkan supaya BTT ini bisa dicairkan untuk penanganan bencana kekeringan ini,” jelasnya.
Selain mengandalkan anggaran pemerintah, penanganan kekeringan juga mulai mendapat dukungan dari pihak swasta melalui program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR).
Chandra mengatakan, sejumlah perusahaan telah mulai menyalurkan bantuan. Pemkab Pati juga telah berkomunikasi dengan Bank Jateng untuk membantu penyediaan air bersih bagi masyarakat terdampak.
“Untuk CSR dari beberapa perusahaan juga sudah mengalir. Ada kemarin dari kami sudah diskusi dengan BPD Jateng untuk penanganan masalah kekeringan ini. Jadi dari BPD Jateng juga nanti akan menganggarkan untuk beberapa tangki,” katanya.
Bantuan tersebut nantinya diharapkan dapat menjangkau lebih banyak wilayah, terutama kecamatan yang mengalami dampak kekeringan cukup parah.
Di sisi lain, Pemkab Pati juga berupaya mencegah kekeringan mengganggu sektor pertanian. Salah satunya dengan bernegosiasi dengan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) agar pasokan air untuk lahan persawahan tetap tersedia.
Chandra menyebut, mulai 15 September 2026, air dari Waduk Kedungombo akan dibuka untuk dialirkan menuju Sungai Silugonggo.
“Untuk wilayah tanam persawahan, kami sudah bernegosiasi dengan BBWS. Alhamdulillah tanggal 15 September nanti dari Waduk Kedungombo akan dibuka untuk dialirkan ke Sungai Silugonggo,” ungkapnya.
Menurutnya, langkah tersebut penting untuk menjaga tanaman pangan agar tidak ikut terdampak akibat musim kemarau panjang.
“Masalah tanaman pangan juga kami terus berupaya supaya dampak kekeringan ini tidak berimbas ke tanaman pangan, khususnya persawahan di Kabupaten Pati,” imbuhnya.
Tak hanya mengandalkan pengiriman tangki air setiap musim kemarau, Pemkab Pati mulai menyiapkan solusi jangka panjang untuk mengatasi persoalan kekeringan.
Chandra mengatakan, pihaknya tengah berdiskusi dengan pemerintah kecamatan untuk mencari sumber air yang bisa dimanfaatkan di sekitar desa-desa terdampak.
“Kami baru negosiasi ataupun diskusi dengan pihak-pihak kecamatan supaya kami bisa membikin sumur-sumur di daerah terdampak kekeringan. Jadi tidak hanya kita tiap tahun harus mengirimkan truk tangki, tapi kami akan mencari sumber-sumber air di wilayah-wilayah terdekat dengan desa-desa yang terdampak kekeringan ini,” tuturnya.
Untuk memastikan keberadaan sumber air, Pemkab Pati berencana melibatkan ahli geolistrik. Teknologi tersebut akan digunakan untuk mencari titik-titik yang berpotensi memiliki cadangan air.
Chandra mengatakan, kebutuhan anggaran untuk pembangunan sumur dan pencarian titik sumber air tersebut akan diupayakan masuk dalam perencanaan anggaran 2027.
“Nanti ahli-ahli dari geolistrik akan kami datangkan supaya titik-titik air ini bisa kita anggarkan nanti di 2027,” katanya.
Ia berharap, keberadaan sumber air di sekitar wilayah terdampak dapat mengurangi ketergantungan terhadap distribusi air menggunakan truk tangki. Terlebih, sejumlah wilayah kekeringan diketahui memiliki kondisi air tanah yang cenderung payau.
“Supaya air ini tidak lagi kita ambil dari daerah kota ataupun daerah yang sangat jauh. Bisa kita ambil dari desa-desa terdekat wilayah kekeringan,” ujarnya.
Menurut Chandra, Pemkab Pati masih akan memetakan lokasi yang memiliki potensi sumber air dengan kualitas dan jarak yang memungkinkan untuk dimanfaatkan masyarakat.
“Memang daerah-daerah kekeringan ini informasinya kalau dibor itu airnya payau. Nah, ini kita baru mencari daerah-daerah mana yang terdekatlah, titik terdekat dari yang terdampak bencana kekeringan ini. Pasti ada kalau kita berusaha,” pungkasnya.







































