PATI – Volume air Waduk Gembong, Kabupaten Pati, terus menyusut dalam beberapa pekan terakhir. Kondisi tersebut membuat persediaan air untuk mengairi lahan pertanian di sejumlah wilayah diperkirakan hanya mampu bertahan sekitar dua pekan.
Berdasarkan pantauan di lokasi, Kamis (3/9/2026), volume air waduk yang berada di Desa Gembong dan Pohgading itu telah menyusut lebih dari 80 persen. Sebagian besar dasar waduk bahkan mulai terlihat.
Meski demikian, waduk masih menyisakan genangan air. Kondisi tersebut juga dimanfaatkan sejumlah warga untuk memancing di area waduk yang mulai dangkal.
Operator Waduk Gembong, Susanto, mengatakan volume air saat ini tersisa sekitar 2,4 juta meter kubik. Padahal, ketika dalam kondisi penuh, waduk tersebut mampu menampung hingga 9,5 juta meter kubik air.
“Untuk volume Waduk Gembong sendiri sekarang tinggal 2,4 juta meter kubik. Dari volume awal penuh itu 9,5 juta meter kubik. Kemungkinan untuk saat ini, kalau ada permintaan petani, sekitar dua mingguan,” kata Susanto, Jumat (4/9/2026).
Menurutnya, Waduk Gembong menjadi salah satu sumber pengairan bagi lahan pertanian di puluhan desa yang tersebar di lima kecamatan. Wilayah tersebut meliputi Kecamatan Margorejo, Pati, Tlogowungu, Wedarijaksa, dan Gembong.
Susanto menyebut distribusi air saat ini telah dilakukan untuk memenuhi kebutuhan petani. Debit pengeluaran air mencapai sekitar 1.200 liter per detik, dengan permintaan terbesar berasal dari wilayah Kecamatan Margorejo.
“Ini untuk lima kecamatan. Kemarin sudah mulai pengeluaran 1.200 liter per detik. Yang paling banyak permintaan dari Kecamatan Margorejo,” jelasnya.
Ia memperkirakan persediaan air waduk tidak akan mampu bertahan lebih dari dua pekan apabila tidak ada tambahan pasokan dari hujan maupun sumber air lainnya.
“Kalau setelah dua minggu kemungkinan tidak bisa keluar lagi airnya. Soalnya itu untuk pembasahan area, pembasahan tubuh dam,” ujarnya.
Susanto menjelaskan, sebagian volume air nantinya harus dipertahankan untuk kebutuhan pembasahan tubuh bendungan. Langkah tersebut diperlukan untuk menjaga kondisi konstruksi waduk agar tetap aman.
Pembasahan dilakukan untuk mencegah munculnya retakan maupun rembesan pada tubuh bendungan akibat kondisi yang terlalu kering.
“Untuk pembasahan sendiri kita biasa menampung 500 ribu meter kubik. Setelah itu tidak bisa didistribusi. Pembasahan itu digunakan supaya tubuh bendung tidak ada retakan dan bangunan ini lebih aman, supaya tidak ada retakan maupun rembesan,” pungkasnya.






































