Beranda Berita Pati Waduk Gembong Tak Bisa Dikuras, 500 Ribu Meter Kubik Air Wajib Disisakan...

Waduk Gembong Tak Bisa Dikuras, 500 Ribu Meter Kubik Air Wajib Disisakan untuk Pembasahan Bendungan

0
0-4064x3074-0-0#
0 0
Read Time3 Minute, 3 Second

PATI – Air Waduk Gembong, Kabupaten Pati, Jawa Tengah, terus menyusut akibat musim kemarau 2026. Namun, pengelola tidak bisa mengeluarkan seluruh air yang tersisa untuk mengairi lahan pertanian.

Sedikitnya 500.000 meter kubik air harus tetap dipertahankan sebagai batas pembasahan untuk menjaga keamanan tubuh bendungan dan bangunan intake.

Operator Waduk Gembong, Susanto, mengatakan volume air saat ini berada di kisaran 2,2 juta meter kubik. Jumlah tersebut jauh menurun dibanding kapasitas tampungan penuh yang mencapai sekitar 9,5 juta meter kubik.

“Kalau air sudah batas pembasahan, yakni 500.000 meter kubik, tidak bisa dikeluarkan lagi,” kata Susanto, Jumat (4/9/2026).

Menurut dia, air pada batas tersebut diperlukan untuk menjaga kondisi tubuh bendungan tetap aman. Pembasahan berfungsi mencegah munculnya retakan maupun rembesan yang dapat mengganggu keamanan bangunan waduk.

“Pembasahan itu digunakan supaya tubuh bendung sendiri tidak ada retakan atau dari bangunan intake sendiri itu lebih aman. Biar nggak ada retakan sama rembesan,” ujarnya.

Dengan demikian, dari sekitar 2,2 juta meter kubik air yang tersisa, tidak semuanya dapat dimanfaatkan untuk irigasi. Pengelola harus memperhitungkan cadangan yang wajib dipertahankan hingga volume air mendekati 500.000 meter kubik.

Di sisi lain, kebutuhan air untuk pertanian masih berlangsung. Saat debit air masih mencukupi, pengeluaran untuk irigasi bisa mencapai sekitar 1.500 liter per detik, tergantung permintaan petani.

Namun, seiring menurunnya volume waduk, debit air yang dikeluarkan kini dikurangi menjadi sekitar 900 liter per detik.

“Kalau debit air masih banyak biasanya keluar 1.500 liter per detik, itu pun tergantung permintaan petani. Untuk saat ini keluar 900 liter per detik,” jelasnya.

Dengan debit tersebut, Susanto memperkirakan pasokan air untuk irigasi hanya mampu bertahan sekitar dua pekan apabila permintaan petani tetap ada.

“Untuk saat ini dari 2.400.000, kalau ada permintaan petani sekitar dua mingguan,” ungkapnya.

Petani Diminta Tak Terburu-buru Tanam

Kondisi tersebut membuat pengelola bersama UPT dan Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A) mulai melakukan langkah antisipasi. Salah satunya dengan memberikan penyuluhan kepada petani.

Petani diminta tidak terburu-buru memulai penanaman padi. Hal itu untuk mencegah kebutuhan air meningkat secara bersamaan ketika cadangan Waduk Gembong semakin terbatas.

“Kami bersama UPT dan P3A melakukan penyuluhan kepada para petani agar tidak memulai menanam padi, karena debit air semakin berkurang. Selain itu, kami meminimalkan pemakaian air,” katanya.

Waduk Gembong selama ini menjadi salah satu sumber irigasi bagi lahan pertanian di sejumlah wilayah Pati. Distribusi air telah dilakukan sejak Mei 2026.

Permintaan awal dari petani mencapai sekitar 1.200 liter per detik. Air Waduk Gembong antara lain dialirkan untuk lahan pertanian di Kecamatan Margorejo, Pati, Gembong, Wedarijaksa, serta wilayah Pati Kota.

Dari sejumlah wilayah tersebut, permintaan air paling banyak disebut berasal dari Kecamatan Margorejo.

Kemarau Lebih Berat

Susanto mengatakan kondisi Waduk Gembong pada musim kemarau 2026 relatif lebih berat dibandingkan tahun sebelumnya. Pada 2025, air yang masih dapat dikeluarkan disebut berada di kisaran 45 persen.

Sementara tahun ini, pengelola memperkirakan volume air dapat terus menyusut hingga mencapai batas pembasahan.

Kondisi kekeringan serupa pernah terjadi pada 2017 dan 2019. Namun, panjangnya musim kemarau tahun ini membuat pengelola harus lebih berhati-hati dalam mengatur distribusi air.

Selain kebutuhan irigasi, pengelola juga harus memperhitungkan penguapan dan penyerapan yang dapat membuat volume air semakin cepat berkurang.

“Ya kemungkinan bisa, karena untuk tampungan sendiri kan tinggal 500.000 meter kubik. Untuk kemungkinan penguapan sama penyerapan kan nggak bisa diprediksi. Kemungkinan ya lebih surut lagi,” katanya.

Karena itu, penghematan air menjadi salah satu langkah utama yang dilakukan pengelola. Petani juga diminta menyesuaikan pola tanam dengan kondisi ketersediaan air.

Dengan cadangan yang terus menyusut, pengelola harus menjaga keseimbangan antara kebutuhan irigasi dan keamanan bendungan. Air memang masih dapat dimanfaatkan, tetapi ketika menyentuh batas 500.000 meter kubik, air tersebut harus tetap dipertahankan untuk pembasahan tubuh bendungan.

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini