PATI – Korban dugaan keracunan makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Pati terus bertambah. Hingga Kamis (10/9/2026), jumlah siswa dan guru yang mengalami gejala keracunan mencapai 265 orang.
Data tersebut dihimpun Dinas Kesehatan (Dinkes) Pati per Kamis (10/9/2026). Terbaru, sebanyak 10 siswa SMPN 1 Gembong dan MTs Mambaul Ulum Gembong dilarikan ke Rumah Sakit Keluarga Sehat (RS KSH) Pati pada Kamis pagi.
Kepala Dinkes Pati, Luky Pratugas Narimo, mengatakan jumlah tersebut merupakan korban yang mengalami gejala dugaan keracunan makanan dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Gembong 1.
”Jumlah korban dugaan kermak (keracunan makanan) MBG SPPG Gembong 1 bergejala 265 orang,” ujar Luky, Kamis siang.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 54 korban masih menjalani rawat inap di sejumlah rumah sakit. Rinciannya, 23 korban dirawat di RSUD Soewondo, 12 korban di RS Mitra Bangsa, 18 siswa di RS KSH Pati, dan satu korban dirawat di RS Fastabiq Sehat.
Sementara itu, korban lainnya menjalani rawat jalan.
Ratusan siswa dan guru yang mengalami gejala tersebut berasal dari tiga sekolah, yakni SMPN 1 Gembong, MTsN 3 Pati atau MTsN Gembong, serta MTs Mambaul Ulum Gembong.
Banyaknya korban dalam kasus tersebut membuat Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Pati Risma Ardhi Chandra menyampaikan permintaan maaf kepada para orang tua siswa. Ia juga menilai kasus dugaan keracunan tersebut masuk kategori Kejadian Luar Biasa (KLB).
Menurut Chandra, penetapan sebagai KLB memungkinkan pembiayaan penanganan dalam kondisi darurat menggunakan belanja tidak terduga, mengingat kasus tersebut menyangkut keselamatan para korban.
Pemkab Pati memastikan seluruh biaya penanganan hingga perawatan ratusan siswa dan guru yang terdampak dari tiga sekolah tersebut ditanggung pemerintah daerah.
”Prioritas kami saat ini adalah memastikan seluruh siswa dan guru yang mengalami keluhan telah mendapatkan penanganan dan memastikan kondisi mereka terus terpantau,” kata Chandra.
Sebagai langkah lanjutan, SPPG Gembong 1 untuk sementara ditutup. Pemkab Pati juga telah mengirimkan sampel makanan ke Laboratorium Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah untuk dilakukan pemeriksaan.
Hasil pemeriksaan laboratorium tersebut diperkirakan baru dapat diketahui dalam waktu satu hingga dua pekan.



































