Beranda Wisata dan Kuliner Budaya Kabut di Meja Makan, Kisah Keluarga yang Retak di Panggung Teater AS...

Kabut di Meja Makan, Kisah Keluarga yang Retak di Panggung Teater AS STAI Pati

0
0 0
Read Time3 Minute, 6 Second

PATI – Sebuah meja makan kayu tua menjadi pusat cerita dalam pementasan produksi ketujuh Teater AS Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Pati. Melalui lakon berjudul Kabut di Meja Makan, penonton diajak menyaksikan pergulatan sebuah keluarga yang dihantam persoalan ekonomi, sakit, tanggung jawab, hingga hilangnya kepercayaan.

Pementasan yang disutradarai Sinta Nur Hidayati itu digelar Kamis (10/9) malam. Di atas panggung sederhana, meja makan tak sekadar menjadi properti. Tempat tersebut menjadi ruang berbagai peristiwa, mulai dari percakapan keluarga, pertengkaran, harapan, hingga cinta yang tersimpan diam-diam.

Suasana panggung terasa getir ketika Herman, seorang ayah yang baru kehilangan pekerjaan karena terkena pemutusan hubungan kerja (PHK), duduk dalam kegelisahan. Tatapannya sesekali tertuju pada foto keluarga di dinding rumah yang mulai kusam.

Herman berada di tengah persoalan yang semakin rumit. Istrinya, Rahmi, menderita katarak. Sementara sang anak, Sita, terpaksa bekerja sebagai buruh cuci untuk membantu menopang kebutuhan keluarga.

Takut dianggap gagal sebagai seorang ayah, Herman berusaha mencari jalan untuk mengembalikan kehormatan keluarganya. Namun, keputusan yang diambil justru membawa keluarga tersebut semakin dekat dengan kehancuran.

Herman memilih perjudian sebagai jalan keluar. Harapan mendapatkan uang dengan cepat berubah menjadi mimpi buruk. Rumah yang menjadi tempat tinggal keluarganya bahkan akhirnya digadaikan.

Di titik itu, bukan hanya persoalan ekonomi yang dipertaruhkan. Kepercayaan antaranggota keluarga pun mulai retak.

Sutradara Kabut di Meja Makan, Sinta Nur Hidayati, mengatakan dirinya memilih naskah karya Erza Dwi Susanto tersebut setelah melakukan pembacaan dan pendalaman terhadap cerita. Ia menemukan persoalan yang dinilai dekat dengan kehidupan banyak orang.

Menurutnya, persoalan keluarga kerap menyimpan cerita tentang rumah dan segala hal yang terjadi di dalamnya. Mulai kasih sayang, tanggung jawab, tekanan, hingga perjuangan mempertahankan keluarga dalam situasi sulit.

“Rumah di naskah ini mewujudkan bukan bangunan tempat tinggal tapi segala perasaan berkumpul. Cinta, pertengkaran, harapan, rasa malu, tanggung jawab dan kehancuran,” terang dia.

Sinta juga tertarik dengan hubungan antarkarakter dalam cerita tersebut. Herman yang diperankan Sobirin digambarkan sebagai sosok ayah yang berusaha mempertahankan tanggung jawab sekaligus menyelamatkan keluarganya dari kehancuran.

“Sementara Rahmi yang dimainkan oleh Ervina meski dengan keterbatasan penglihatan justru punya kepekaan batin yang sangat kuat. Sita yang diperankan oleh Fida juga harus tumbuh lebih cepat karena keadaan. Di usianya yang masih sangat muda dia dipaksa harus menopang keluarganya,” tambah perempuan yang juga alumni STAI Pati tersebut.

Melalui pementasan itu, Sinta ingin menunjukkan bahwa di balik sebuah rumah sering kali terdapat cerita yang tidak terlihat dari luar.

“Ada keluarga yang berjuang begitu keras. Ayah yang mungkin salah mengambil keputusan karena terlalu takut dianggap gagal dan tidak bertanggung jawab. Ada ibu yang takut menjadi beban, serta anak yang terpaksa mengorbankan masa depan demi keluarganya,” imbuhnya.

Bagi Sinta, Kabut di Meja Makan tidak sekadar bercerita tentang kemiskinan dan krisis ekonomi. Lakon tersebut juga menggambarkan bagaimana sebuah keluarga dapat kehilangan arah ketika terlalu keras mempertahankan sesuatu yang dianggap sebagai kehormatan.

Meja makan dalam pementasan itu pun menjadi simbol sekaligus saksi. Di tempat tersebut, keluarga perlahan retak, tetapi pada saat yang sama masih menyimpan harapan dan cinta.

“Kini ada lintasan pertanyaan yang ingin ditinggalkan penikmat pertunjukan tersebut. Ketika rumah kehilangan bentuknya, apakah keluarga bisa menjadi tempat untuk pulang?” ujar Sinta.

Sementara itu, Ketua Panitia Pentas Produksi, Erfina Diah Kusumawati, mengatakan Kabut di Meja Makan merupakan produksi ketujuh Teater AS STAI Pati.

Menurutnya, pementasan tersebut sengaja mengangkat persoalan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari agar pesan yang disampaikan tidak berhenti di atas panggung.

“Kami ingin berbicara pada sesuatu yang paling dekat. Kami ingin belajar tentang sebuah keluarga sehingga pementasan ini tak berhenti hanya dengan gemerlapnya panggung namun juga ke rumah kita masing-masing,” terang dia.

Ia menambahkan, pembelajaran mengenai hubungan dalam keluarga juga penting bagi mahasiswa sebelum nantinya terjun ke tengah masyarakat, terutama bagi mahasiswa yang dipersiapkan menjadi calon guru.

“Kami ingin belajar mengenali diri sendiri, teman, keluarga dan orang lain,” ujarnya.

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini