Beranda Berita Pati Sedekah Laut Pecangaan, Tradisi Syukur Nelayan Pati yang Tak Lekang oleh Waktu

Sedekah Laut Pecangaan, Tradisi Syukur Nelayan Pati yang Tak Lekang oleh Waktu

0
0 0
Read Time2 Minute, 20 Second

PATI – Pagi baru saja meninggi ketika puluhan perahu nelayan mulai meninggalkan Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Pecangaan, Kecamatan Batangan, Kabupaten Pati, Kamis (2/7/2026). Di antara deru mesin perahu dan semilir angin laut, terselip satu harapan yang sama: semoga laut tetap murah hati memberikan rezeki.

Sekitar 70 perahu tradisional bergerak perlahan menuju perairan Laut Pecangaan. Di salah satu perahu, sebuah kepala kambing telah disiapkan sebagai sesaji yang akan dilarung ke tengah laut. Prosesi itu bukan sekadar ritual, melainkan bagian dari tradisi sedekah laut yang telah diwariskan turun-temurun oleh masyarakat pesisir.

Bagi para nelayan, laut bukan hanya tempat mencari nafkah. Laut adalah sahabat yang setiap hari menghidupi keluarga mereka. Karena itulah, setiap tahun mereka kembali berkumpul untuk mengungkapkan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas hasil tangkapan yang telah diberikan.

Prosesi larung sesaji berlangsung khidmat. Sesaji dilepaskan ke laut, disusul doa-doa yang dipanjatkan agar musim tangkap berikutnya membawa keselamatan dan hasil yang melimpah.

Di balik kekhidmatan tradisi tersebut, jajaran Polresta Pati turut mengawal jalannya kegiatan. Pengamanan dipimpin Wakasat Polairud Polresta Pati AKP Budi Santoso bersama personel Satpolairud, Polsek Batangan, Koramil Batangan, serta didukung Pemerintah Kecamatan Batangan dan Pemerintah Desa Pecangaan.

Kehadiran aparat tidak hanya menjaga keamanan, tetapi juga memastikan seluruh peserta dapat mengikuti prosesi dengan aman saat berada di laut.

Kasat Polairud Polresta Pati, Kompol Hendrik Irawan, mengatakan pihaknya telah menyiagakan personel beserta berbagai perlengkapan keselamatan selama kegiatan berlangsung.

“Pengamanan dilakukan sejak awal hingga seluruh peserta kembali ke darat. Kami ingin memastikan tradisi sedekah laut dapat berjalan dengan aman, tertib, dan memberikan rasa nyaman kepada masyarakat,” kata Kompol Hendrik.

Satpolairud juga menyiapkan satu unit perahu karet, life jacket, ring buoy, megaphone, serta kendaraan operasional sebagai langkah antisipasi apabila terjadi kondisi darurat di perairan.

“Kami juga mengingatkan seluruh peserta untuk selalu mengutamakan keselamatan saat berlayar, mematuhi arahan petugas, dan menggunakan perlengkapan keselamatan selama mengikuti prosesi di laut,” ujarnya.

Setelah sesaji dilarung, rombongan kembali ke daratan untuk melanjutkan tahlil dan doa bersama di Punden Simbah Bada’un Sawa’un. Suasana hening menyelimuti lokasi saat para nelayan bersama tokoh masyarakat memanjatkan doa sebagai penutup rangkaian sedekah laut.

Bagi masyarakat Pecangaan, tradisi ini bukan sekadar seremoni tahunan. Sedekah laut menjadi ruang untuk merawat warisan leluhur, memperkuat kebersamaan, sekaligus mengingatkan bahwa hasil laut yang mereka nikmati adalah anugerah yang patut disyukuri.

“Polri mendukung pelestarian tradisi budaya yang berkembang di tengah masyarakat. Melalui pengamanan yang kami lakukan, kami berharap seluruh rangkaian kegiatan dapat berlangsung aman, tertib, serta semakin mempererat kebersamaan antara masyarakat dan aparat,” ungkap Kompol Hendrik.

Menjelang siang, satu per satu perahu kembali bersandar di dermaga. Tidak ada riuh yang berlebihan, hanya senyum lega para nelayan karena tradisi kembali terlaksana dengan aman. Bagi mereka, sedekah laut bukan hanya tentang melarung sesaji, melainkan juga menjaga hubungan harmonis antara manusia, alam, dan Sang Pencipta yang telah menjadi pegangan hidup masyarakat pesisir dari generasi ke generasi.

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini