PATI – Petani di sebagian wilayah Kabupaten Pati mulai memasuki masa panen Musim Tanam (MT) II. Namun, hasil panen tahun ini mengalami penurunan cukup signifikan dibanding musim sebelumnya. Meski demikian, turunnya produksi diimbangi dengan kenaikan harga gabah yang memberikan sedikit angin segar bagi petani.
Salah seorang petani, Kamelan, mengatakan penurunan hasil panen kali ini diperkirakan mencapai hampir 20 persen. Menurutnya, ada beberapa faktor yang menyebabkan produktivitas padi menurun.
Faktor utama yang memengaruhi hasil panen adalah kondisi cuaca yang tidak menentu selama masa tanam. Hujan disertai angin yang terjadi saat fase penyerbukan menyebabkan proses pembentukan bulir padi tidak berlangsung optimal.
“Cuaca tidak stabil. Saat masa penyerbukan terjadi hujan dan angin sehingga proses penyerbukan terganggu. Itu cukup berpengaruh terhadap hasil panen,” ujar Kamelan asal Desa Jambean Kidul, Kecamatan Margorejo, Pati, Senin (8/6/2026).
Selain faktor cuaca, tingginya harga sarana produksi pertanian juga menjadi penyebab menurunnya hasil panen. Harga pupuk non-subsidi dan obat-obatan pertanian yang terus meningkat membuat sebagian petani mengurangi intensitas pemupukan maupun penyemprotan.
Menurut Kamelan, kondisi tersebut membuat perawatan tanaman tidak dapat dilakukan secara maksimal sehingga berdampak pada produktivitas lahan.
“Karena harga obat-obatan dan pupuk non-subsidi mahal, banyak petani yang menahan biaya produksi. Akibatnya pemupukan dan penyemprotan tidak maksimal,” katanya.
Meski produksi menurun, petani masih mendapatkan keuntungan dari meningkatnya harga gabah di tingkat petani. Saat ini harga gabah berkisar antara Rp8.000 hingga Rp8.200 per kilogram, tergantung kualitas hasil panen.
Harga tersebut lebih tinggi dibandingkan musim tanam sebelumnya yang berada di kisaran Rp7.500 hingga Rp7.700 per kilogram.
Kamelan menyebut kenaikan harga gabah mulai terjadi sekitar dua pekan terakhir. Menurutnya, terbatasnya pasokan gabah di pasaran menjadi salah satu faktor yang mendorong harga naik.
“Alhamdulillah, walaupun hasil panen turun, harga gabah sekarang lebih baik. Saat ini sekitar Rp8.000 sampai Rp8.200 per kilogram, sedangkan sebelumnya hanya Rp7.500 sampai Rp7.700,” ungkapnya.
Petani berharap, kondisi harga gabah yang cukup tinggi dapat membantu menutupi berkurangnya hasil panen serta meningkatnya biaya produksi yang harus mereka keluarkan selama musim tanam berlangsung.










































