Beranda Berita Pacu Sportourism di Jateng, Disporapar Ajak Pegiat Event Olahraga Mengenal Jemparingan

Pacu Sportourism di Jateng, Disporapar Ajak Pegiat Event Olahraga Mengenal Jemparingan

0
0 0
Read Time2 Minute, 4 Second

WARTATIMES SEMARANG – Dinas Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata (Disporapar) Jateng mengajak pegiat event, guru olahraga dan pengelola obyek wisata mengenal jemparingan. Pengenalan olahraga panahan tradisional ini, diharapkan dapat menggelorakan sport tourism di Jawa Tengah, setelah pandemi Covid-19.  

Pengenalan dan pelatihan singkat diadakan di Omah Alas, di Desa Wisata Kandri, Gunungpati-Semarang, Sabtu (21/5/2022). Kegiatan  tersebut diikuti 50 orang dari pengelola obyek wisata, pegiat event dan guru olahraga. 

Maestro jemparingan asal Solo Edy Roostopo dan Agung Sumedi, menjadi pelatih untuk ajang tersebut. 

Sub Koordinator Seksi Olahraga Rekreasi dan Industri Olahraga Disporapar Jateng Anton Asviani mengatakan, pelatihan ini dilakukan untuk menggelorakan wisata olahraga. Itu tak lepas dari potensi sport tourism yang dapat dikembangkan di penjuru Jawa Tengah. 

Ia menyebut, terdapat event sport tourism di Jateng yang bersifar masif. Seperti Borobudur Marathon atau Tour De Borobudur yang sekaligus memunyai manfaat ekonomi yang tinggi. 

“Sport Tourism (wisata olahraga) di Jawa Tengah potensinya besar. Inisiatif kami agar orang yang mau berwisata mau datang karena ada sesuatu yang unik, satu di antaranya olahraga tradisi jemparingan,” ucapnya. 

Ia menyebut, di Jateng banyak terdapat olahraga tradisi. Seperti jemparingan, egrang dan sebagainya yang dapat dibungkus dengan destinasi wisata. 

“Inisiatif kita untuk angkat olahraga tradisional karena potensi alam di sekitar bisa dibikin alat olahraga. Seperti gendewa (busur) jemparingan dari bambu petung. Itu bisa jadi suvenir olahraga dan suvenir pariwisata. Bisa juga dijadikan paket wisata,” urainya. 

Maestro jemparingan Edy Roostopo mengapresiasi kegiatan itu. Menurutnya, jemparingan perlu dipopulerkan kepada masyarakat.

Selain melestarikan budaya Jawa, jemparingan juga bisa dijadikan batu loncatan menuju olahraga panahan modern. 

“Jemparingan itu mementingkan rasa. Nah ketika sudah bisa menguasai jemparingan, mau pindah ke cabang panahan modern bisa. Olahraga ini juga memberikan rasa fokus dan ketenangan,” sebutnya. 

Ia menyebut, olahraga jemparingan termasuk olahraga murah. Jika dibandingkan dengan panahan modern, satu set alat jemparingan (busur dan anak panah) dapat diperoleh dengan harga Rp 1,2 juta. Sementara, alat panahan modern harganya di atas 5 juta rupiah. 

“Saat ini di Solo Raya sendiri ada 57 klub jemparingan. Kalau di DIY ada 60 klub. Saat ini perkembangannya luar biasa. Harapannya olahraga ini bisa digeluti siswa siswi sekolah dasar,” imbuh Edy. 

Seorang peserta dari Ikatan Guru Olahraga Nasional (Igornas) Angga Raditya bersyukur dapat mengikuti latihan tersebut. Ia menyebut akan menularkan ilmu yang didapat kepada murid-muridnya.

Sementara itu, Pengelola Omah Alas Masduki berharap agar olahraga jemparingan dapat dikembangkan sebagai atraksi wisata. 

“Setelah Covid-19 harapannya jemparingan dapat dijadikan paket di Omah Alas.  Di sini pun olahraga tradisionalnya sudah banyak dikembangkan,” pungkas Masduki. (Jambrong)

 

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %
Artikulli paraprakUsai Menteri Pembangunan, Giliran Menteri Keuangan Singapura Temui Ganjar
Artikulli tjetërLantik Empat Penjabat Kepala Daerah, Ganjar: Jaga Integritas, Kerja Profesional

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini