Beranda Berita Pati Cegah Bencana dan Selamatkan Sumber Mata Air, Komunitas Jogo Muria Resmi Terbentuk

Cegah Bencana dan Selamatkan Sumber Mata Air, Komunitas Jogo Muria Resmi Terbentuk

0
0 0
Read Time2 Minute, 19 Second

PATI – Ancaman kerusakan lingkungan dan menyusutnya debit sumber mata air di lereng Gunung Muria mendorong berbagai elemen masyarakat untuk bergerak bersama. Mereka sepakat membentuk Komunitas Jogo Muria sebagai wadah kolaborasi menjaga kelestarian hutan dan lingkungan.

Pembentukan komunitas tersebut ditandai dengan deklarasi komitmen bersama di Gili Malang, Desa Jrahi, Kecamatan Gunungwungkal, Kabupaten Pati, Sabtu (31/10/2026). Kegiatan itu melibatkan puluhan warga, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Pati, Cabang Dinas Kehutanan (CDK) Wilayah Jateng II, Perhutani, TNI/Polri, Yayasan Aksi Lestari Lingkungan Indonesia, petani, hingga relawan lingkungan.

Melalui deklarasi tersebut, seluruh pihak berkomitmen melakukan berbagai aksi nyata untuk menjaga kelestarian kawasan Gunung Muria. Mulai dari perlindungan hutan, penanaman pohon, hingga upaya konservasi sumber mata air.

Ketua Komunitas Jogo Muria, Yusuf, mengatakan, pembentukan komunitas ini berangkat dari kepedulian terhadap kelestarian hutan Muria. Pihaknya ingin memastikan kawasan tersebut tetap terjaga sekaligus memberikan manfaat bagi masyarakat sekitar.

Ia menegaskan, keberadaan Jogo Muria bukan untuk berbenturan dengan masyarakat yang selama ini menggantungkan penghidupan dari pertanian kopi.

“Kami berharap bahwa dapat berdampingan bersama-sama dengan petani kopi dan kami juga bertani di sana, tapi kami menanam tanaman abadi atau tanaman keras yang bisa menghasilkan air yang dapat melestarikan sumber mata air untuk kesejahteraan masyarakat kita sendiri,” tuturnya.

Ketua Yayasan Aksi Lestari Lingkungan Indonesia, Akrom, menambahkan, pembentukan komunitas tersebut dilatarbelakangi keprihatinan atas berkurangnya debit sumber mata air yang mulai dikeluhkan masyarakat desa.

Untuk itu, pihaknya memfasilitasi terbentuknya wadah kolaborasi yang melibatkan berbagai unsur masyarakat dan pemangku kepentingan. Langkah selanjutnya adalah menyatukan visi dan misi sebelum melakukan gerakan penghijauan secara masif.

“Setelah ini baru kita satukan dulu visi misi yang di dalam deklarasi itu, baru kita akan adakan penanaman masif, tetapi juga ada zona-zona yang memang dapat menjadi kewenangan bila CDK wilayah Jateng 2. Jadi, zona konservasi mana yang memang harus dilindungi, itulah yang harus kita rawat,” katanya.

Perwakilan CDK Wilayah Jateng II, Sugeng Teguh Pribadi, menyambut baik terbentuknya Komunitas Jogo Muria. Menurutnya, keterlibatan masyarakat menjadi faktor penting dalam menjaga kelestarian kawasan hutan.

Ia menyebut, kawasan hutan lindung yang harus dikelola memiliki luas mencapai 9.440 hektare. Luasan tersebut membutuhkan dukungan dan kepedulian masyarakat agar kelestariannya tetap terjaga.

“Karena memang luas hutan nanti yang akan kita kelola, terutama hutan lindung, seluas 9.440 hektar. Tanpa adanya peran serta dari masyarakat, kemudian juga masyarakat sekitar hutan yang memang sangat peduli terhadap kelangsungan hutan Muria, itu kita berharap sangat dari mereka juga,” ungkapnya.

Dukungan juga disampaikan Kepala DLH Pati, Tulus Budiharjo. Ia berharap gerakan serupa tidak hanya tumbuh di kawasan lereng Gunung Muria, tetapi juga menjangkau wilayah lain, terutama kawasan pesisir.

Menurutnya, keterlibatan komunitas dan masyarakat dalam menjaga lingkungan merupakan salah satu langkah penting untuk mengurangi risiko bencana.

“Kami berharap tidak hanya wilayah Muria saja yang ada komunitas seperti ini. Tapi juga wilayah lainnya, pesisir dan lainnya. Salah satu upaya mitigasi untuk mencegah bencana,” tandasnya.

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini