Beranda Berita Pati Harga Rajungan Tinggi, Nelayan Pati Malah Kesulitan Cari Tangkapan

Harga Rajungan Tinggi, Nelayan Pati Malah Kesulitan Cari Tangkapan

0
0 0
Read Time1 Minute, 34 Second

PATI – Nelayan rajungan di Desa Keboromo, Kecamatan Tayu, Kabupaten Pati, tengah menghadapi kondisi sulit. Di tengah harga rajungan yang sedang tinggi, hasil tangkapan mereka justru menurun drastis.

Ketua Kelompok Nelayan Rajungan Bino Makmur Keboromo, Rokhim, mengatakan kondisi tersebut telah berlangsung selama berbulan-bulan. Nelayan kini kesulitan mendapatkan rajungan meski harus memasang ratusan hingga ribuan bubu.

“Harganya bagus, tapi rajungannya sulit dicari. Pernah ada pasang 1.000 bubu hanya dapat empat ekor saja,” katanya.

Menurut Rokhim, kondisi tersebut berdampak langsung terhadap perekonomian nelayan. Di Desa Keboromo, setidaknya terdapat sekitar 70 hingga 80 nelayan yang menggantungkan penghasilan dari mencari rajungan.

Alih-alih mendapatkan keuntungan, nelayan justru kerap mengalami kerugian setiap kali melaut. Biaya operasional yang dikeluarkan tidak sebanding dengan hasil tangkapan.

“Kalau dihitung kerugian sekitar Rp300 ribu. Itu buat beli solar dan perbekalan. Karena mencari rajungan mayoritas tiga orang yang bawa sekitar 500 bubu,” ungkapnya.

Rokhim menduga menurunnya hasil tangkapan dipengaruhi sejumlah faktor. Mulai dari perubahan iklim, kerusakan ekosistem laut, hingga pencemaran yang membuat habitat rajungan semakin berkurang.

Selain itu, ia menyoroti belum adanya fish apartment atau rumah ikan serta penggunaan alat tangkap tertentu yang dinilai mengganggu ekosistem laut.

“Penyebabnya banyak. Karena alat tangkap mini cantrang nelayan dari daerah lain, limbah tapioka hingga tidak adanya terumbu karang,” ungkapnya.

Kondisi tersebut berbeda dengan sekitar 10 tahun lalu. Saat itu, nelayan masih memiliki pola musim yang bisa dijadikan patokan untuk mencari rajungan.

Menurut Rokhim, Desember hingga Maret biasanya menjadi musim rajungan. Nelayan bisa memperkirakan waktu melaut dan hasil yang akan diperoleh.

“Dulu bisa ditentukan. Desember, Januari, Februari, Maret, ada hasil tangkapan. Intinya bisa buat harian. Tapi sekarang tidak bisa diprediksi,” ucapnya.

Ia menyebut, sekitar satu dekade lalu, pemasangan 200 bubu saja bisa menghasilkan sedikitnya lima kilogram rajungan dalam sekali melaut. Namun, hasil tersebut kini sulit dicapai karena keberadaan rajungan semakin tidak menentu.

“Untuk alat tangkap 200 biji, minimal dapat 5 kilo. Tapi 10 tahun yang lalu,” pungkasnya.

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini