PATI – Ribuan warga dari berbagai elemen masyarakat di Kabupaten Pati memadati Alun-alun Pati, Selasa (23/6/2026). Mereka menggelar aksi unjuk rasa untuk menyatakan dukungan terhadap pemerintahan Presiden Prabowo Subianto sekaligus mendesak agar Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tetap dilanjutkan.
Sejak siang hari, massa berdatangan membawa pengeras suara, spanduk, dan baliho berisi dukungan terhadap program unggulan pemerintah tersebut. Sejumlah tulisan seperti “Jangan Stop MBG”, “MBG Bikin Semangat Sekolah”, hingga “Teruskan Program MBG” tampak menghiasi lokasi aksi.
Koordinator Lapangan, Edi Hidayatullah mengatakan, peserta aksi berasal dari berbagai kalangan, mulai petani, nelayan, peternak, pelaku UMKM hingga relawan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dari seluruh Kabupaten Pati. Jumlah peserta diperkirakan mencapai sekitar 4.000 orang.
Menurutnya, aksi digelar sebagai bentuk dukungan terhadap Presiden Prabowo Subianto dan program MBG yang dinilai telah memberikan dampak nyata bagi masyarakat bawah.
”Tuntutannya ada enam, tuntutan umumnya ada dua, lanjutkan pemerintahan Prabowo dan lanjutkan program strategis beliau, yaitu MBG. Karena MBG banyak membantu UMKM, petani, nelayan maupun peternak,” kata Edi.
Selain meminta keberlanjutan MBG, massa juga mendesak pemerintah dan DPR RI mempercepat pembahasan Undang-Undang MBG. Mereka berharap sejumlah program strategis nasional lainnya, seperti Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) dan kampung nelayan, dapat terus disukseskan.
“Lanjutkan Prabowo tanpa ada provokasi,” ucap Edi.
Meski mendukung penuh pelaksanaan MBG, massa tidak menutup mata terhadap berbagai persoalan yang muncul dalam pelaksanaannya. Mereka menilai program tersebut tetap perlu dievaluasi, terutama terkait transparansi penggunaan anggaran serta penerapan standar operasional prosedur (SOP) di lapangan.
Edi menegaskan evaluasi diperlukan untuk memperkuat program, bukan menghentikannya.
”Evaluasi ini bukan ditutup. Karena banyak relawan hampir 1 juta lebih bergantung SPPG. (Soal 1 kecamatan 6 dapur) kita tunggu saja dari BGN. Saya yakin ini dilanjut. Harapannya dilanjutkan,” tandasnya.
Dukungan serupa disampaikan Mulyati, relawan SPPG Sugihrejo, Kecamatan Gabus. Ia menilai program MBG telah memberikan manfaat besar bagi masyarakat, khususnya dalam membuka lapangan pekerjaan dan meningkatkan perekonomian lokal.
Mulyati yang bekerja di bagian pengemasan SPPG mengatakan program tersebut menjadi harapan bagi banyak warga berusia di atas 40 tahun yang kesulitan mendapatkan pekerjaan.
Menurutnya, keberadaan dapur SPPG tidak hanya menyerap tenaga kerja, tetapi juga menjadi pasar bagi hasil pertanian dan peternakan warga setempat.
“Petani itu, kan, juga sangat terbantu ya. Kayak jeruk di Soneyan itu juga dibeli oleh SPPG. Terus pisang di Tompegunung. Lalu ikan lele, ayam, dadi peternak semua itu sekarang juga laku,” kata Mulyati.
Ia mengungkapkan, jika program tersebut dihentikan, dampaknya akan dirasakan langsung oleh para pekerja dan pelaku usaha yang selama ini menjadi bagian dari rantai pasok MBG. Satu dapur SPPG, kata dia, setidaknya mampu mempekerjakan puluhan orang.
Terkait kasus dugaan korupsi yang menjerat sejumlah petinggi Badan Gizi Nasional (BGN), Mulyati menyerahkan sepenuhnya kepada aparat penegak hukum. Namun, ia berharap kasus tersebut tidak menghambat program yang telah dirasakan manfaatnya oleh masyarakat luas.
“Kalau kasus korupsi itu, kan, manusiawi ya. Karena semua orang pasti menginginkan keuntungan. Semua lahan apa pun pasti ada unsur korupsinya. Yang penting hukum tetap ditegakkan. Kalau korupsi itu sudah ada sendiri yang menangani. Jadi biarkan prosedur hukumnya berjalan,” paparnya.
Aksi yang berlangsung tertib tersebut ditutup dengan seruan agar pemerintah tetap melanjutkan MBG sembari melakukan perbaikan dan pengawasan yang lebih ketat. Massa juga menegaskan komitmennya untuk terus mengawal program strategis nasional yang dinilai mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan memperkuat perekonomian daerah.










































