PATI — Warga Desa Tunggulsari, Kecamatan Tayu, Kabupaten Pati, menggelar aksi protes dengan membentangkan sejumlah poster di kawasan permukiman yang terendam banjir rob, Jumat (19/6/2026). Melalui aksi tersebut, warga mendesak pemerintah segera mengambil langkah nyata dan permanen untuk menangani tanggul jebol yang menjadi penyebab utama meluasnya genangan.
Berbagai tulisan bernada keluhan dan harapan terpampang dalam aksi tersebut, di antaranya bertuliskan “Jangan biarkan kami tenggelam”, “Rumah kami akan tenggelam Pak Prabowo!! Tolong kami!”, dan “Tolong Pak!!! tambak kami hilang”.
Ketua RT 5 RW 1 Desa Tunggulsari, Budi Amanto, mengatakan aksi tersebut dilakukan agar pemerintah dapat melihat secara langsung kondisi warga yang telah bertahun-tahun terdampak banjir rob. Menurutnya, warga hanya menginginkan satu hal, yakni percepatan pembangunan tanggul sepanjang 110 meter yang jebol.
“Saya berharap supaya pemerintah bisa melihat keadaan di sini dan terbuka hatinya untuk cepat membangun tanggul yang ada Tunggulsari,” harapnya.
Budi menjelaskan, banjir rob dengan ketinggian mencapai 70 sentimeter telah melumpuhkan aktivitas sehari-hari warga sekaligus menggerus perekonomian masyarakat. Sejumlah tambak ikan nila yang menjadi sumber penghidupan warga juga tidak lagi produktif akibat terus-menerus terendam air laut.
“Warga sini mayoritas pekerjaannya petani tambak. Jadi otomatis kehilangan pekerjaan,” beber dia.
Kondisi tersebut diperparah dengan minimnya bantuan yang diterima warga selama lebih dari satu bulan terakhir. Padahal, kebutuhan mendesak seperti air bersih dan bahan pokok sangat dibutuhkan untuk menunjang kehidupan sehari-hari di tengah bencana yang berkepanjangan.
“(Butuh bantuan) bahan pokok dan air bersih. (Bantuan) Dari warga ada dikit-dikit. Dari pemerintah belum,” ungkap Budi.
Keluhan serupa disampaikan warga lainnya, Rukmini. Ia mengatakan banjir rob telah menghantui warga selama dua tahun terakhir dan dalam sebulan terakhir genangan semakin meluas hingga menjangkau wilayah RT 3 RW 1 yang sebelumnya tidak terdampak.
“(Banjir rob) 2 tahunan. Banjirnya kalau pas pagi air pasang. (Banjir) tiap hari,” katanya.
Akibat aktivitas ekonomi yang lumpuh, banyak warga kini bergantung pada bantuan bahan pokok dan makanan siap saji untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
“Dikasih beras, kadang nasi bungkus. Kalau tidak ada nasi bungkus, ya makan mi. Seadanya,” kata Rukmini.
Rukmini berharap pemerintah segera mengambil langkah konkret untuk mengatasi persoalan banjir rob yang terus berulang, salah satunya dengan memperbaiki tanggul yang jebol agar air laut tidak lagi masuk ke permukiman warga saat pasang.
“Ya, segera ditanggulagi, dibenahi itu tanggulnya, biar kalau ada air pasang nggak banjir lagi,” harapnya.









































