PATI – Sejumlah pasangan suami istri alias pasutri di Kabupaten Pati mengantre untuk bisa mengadopsi bayi laki-laki yang dibuang di sebuah Gang Desa Growong Kidul, Kecamatan Juwana, Kabupaten Pati.
Hal ini diungkapkan Kepala Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana alias Dinsos P3AKB Pati, dr Aviani Tritanti Venusia.
”Seperti kasus sebelumnya, yang adopsi pasti banyak. Baik keluarga yang sudah punya anak maupun belum. Jadi minatnya banyak. Di kami ada beberapa yang daftar,” ujar dr Aviani Selasa (2/6/2026).
Hingga Selasa sore, sebanyak empat pasangan sudah mengantre untuk bisa mengadopsi. Jumlah tersebut belum termasuk pasutri yang mendaftarkan diri ke Puskesmas Juwana secara langsung.
”Saat ini di kami ada empat orang yang daftar. Puskesmas ada banyak. Mereka meninggalkan KTP. Kita inventaris dulu,” kata dr Aviani.
Ia menjelaskan, sebenarnya Dinsos P3AKB Kabupaten Pati belum membuka pendaftaran secara resmi. Pihaknya masih menunggu proses penyelidikan dari kepolisian.
Pasalnya, Dinsos P3AKB Pati memprioritaskan pihak keluarga yang merawat bayi laki-laki yang mempunyai berat badan 3,8 kg dan tinggi 50 cm tersebut. Bila sudah ditemukan keluarga dan mereka tidak sanggup merawat, proses adopsi baru dilakukan.
”Kami menunggu proses kepolisian. Sampai ditemukan pelaku maupun keluarga si bayi. Keluarga apakah mau merawat bayi. Bagaimanapun bayi akan aman bila yang merawat keluarga. Itu yang kita utamakan,” tutur dr Aviani.
Meskipun demikian, pihaknya tidak mempermasalahkan pasutri yang telah mengantre. Baginya itu merupakan wujud kepedulian warga Kabupaten Pati kepada bayi tersebut.
”Kami sebenarnya membuka pendaftaran setelah proses kepolisian. Kami harapkan tetap keluarga mau merawatnya. Yang utama adalah keluarga. Kalau memang ada yang daftar silahkan ndak papa. Andai keluarga tidak mau merawat, nanti akan menjadi anak negara dan silahkan untuk diadopsi,” ungkap dia.
Pihaknya juga melarang warga untuk berbondong-bondong menjenguk bayi tersebut. Ini dilakukan agar kesehatan bayi terjaga.
”Kita tidak memperbolehkan untuk warga menjenguk. Takutnya ada apa-apa. Ambil gambar juga ndak boleh,” pungkasnya.




































