PATI – Peringatan Hari Batik Nasional 2026 menjadi momentum untuk mengenalkan batik kepada generasi muda. Salah satunya dilakukan Asmaradana Batik Pati bersama Koperasi Produsen Batik Bakaran Pati dengan mengajak anak-anak belajar membatik secara langsung.
Kegiatan tersebut digelar di Sentra Batik Asmaradana dan Koperasi Produsen Batik Danowati Pati, Desa Mulyoharjo, Kecamatan Pati. Sebanyak 30 anak dari SDIT, SD Mulyoharjo, dan SMP 2 Margorejo mengikuti kegiatan edukasi tersebut.
Dalam kegiatan itu, anak-anak diajak membuat sapu tangan batik. Mereka terlebih dahulu dikenalkan dengan cara membuat pola sederhana, seperti gambar buah dan bunga. Setelah itu, pola tersebut dicanting, diwarnai, hingga melalui sejumlah tahapan untuk menjadi kain batik.
Perajin batik, Devi Rukmana, mengatakan kegiatan tersebut digelar untuk memberikan pengalaman langsung kepada anak-anak mengenai proses pembuatan batik.
”Acaranya kita edukasi batik, pembuatan sapu tangan. Ada 30 peserta anak-anak dari SD IT, SD Mulyoharjo, sama SMP 2 Margorejo,” kata Devi.
Menurutnya, pengenalan batik kepada anak-anak penting dilakukan sejak dini. Sebab, mereka merupakan generasi penerus yang nantinya memiliki peran dalam menjaga keberlangsungan batik sebagai warisan budaya Indonesia.
”Untuk pengetahuan, membudayakan budaya Indonesia tentang apa itu batik, cara buatnya itu gimana, tidak seribet atau sesulit yang mereka pikirkan, gitu,” tuturnya.
Devi berharap kegiatan semacam itu dapat membuat anak-anak semakin mengenal batik, bukan hanya sebagai kain bermotif, tetapi juga memahami proses dan nilai budaya di balik pembuatannya.
Salah satu peserta, Windya, mengaku baru pertama kali mencoba membatik. Ia merasa senang karena dapat mengikuti proses pembuatan batik dari tahap awal hingga menjadi sapu tangan.
”Belajar cara membatik. Prosesnya menggambar pola terlebih dahulu, terus dicanting. Setelah dicanting, diwarnai. Setelah diwarnai, dikeringkan sampai kering. Setelah diwarnai sampai kering, terus difiksasi dan tunggu kering lagi. Setelah itu direbus atau dilorot. Setelah itu dicuci dan dikeringkan lagi,” ungkapnya.
Kegiatan tersebut menjadi salah satu cara mengenalkan batik secara langsung kepada anak-anak. Harapannya, pengalaman membatik sejak dini dapat menumbuhkan ketertarikan mereka terhadap budaya lokal sekaligus ikut menjaga keberadaan batik agar tetap lestari.