Beranda Berita Pati Asmaradana Hidupkan Kisah Genuk Kemiri Pati Lewat Motif Batik

Asmaradana Hidupkan Kisah Genuk Kemiri Pati Lewat Motif Batik

0
Asmaradana Hidupkan Kisah Genuk Kemiri Pati Lewat Motif Batik
0-3840x2174-0-0#
0 0
Read Time3 Minute, 21 Second

PATI – Selembar kain batik tak hanya menyimpan motif dan warna. Di tangan perajin, batik juga dapat menjadi media untuk merekam cerita tentang tempat, masyarakat, hingga tradisi yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Semangat itu dihadirkan Asmaradana Batik Pati melalui motif Batik Genuk Kemiri dalam momentum Hari Batik Nasional 2026.

Motif tersebut terinspirasi dari cerita masyarakat tentang Genuk Kemiri, sebuah tempat yang dipercaya memiliki keterkaitan dengan kisah awal Kabupaten Pati. Sejumlah simbol dituangkan dalam motif itu, di antaranya genuk, naga, macan, dan pohon beringin.

Pemilik Asmaradana Batik Pati, Devi Rukmana, mengatakan motif tersebut dibuat untuk mengenalkan kembali cerita lokal Pati melalui karya batik.

“Memperingati Hari Batik Nasional tahun 2026, kami dari Asmaradana Batik Pati ingin memperlihatkan karya kami sebagai cikal bakal Batik Pati tentang Genuk Kemiri,” ujar Devi.

Menurutnya, setiap unsur dalam motif tersebut memiliki cerita yang berkembang di tengah masyarakat.

Genuk, misalnya, dalam cerita tutur masyarakat disebut memiliki kaitan erat dengan kehidupan warga pada masa lalu. Genuk tersebut dipercaya menjadi tempat orang yang pulang dari sawah atau keluar dari alas untuk membersihkan diri.

Di bagian bawah atau depan genuk disebut terdapat sumber air yang digali tidak terlalu dalam. Airnya dipercaya terus meluber sehingga dapat dimanfaatkan masyarakat yang melintas.

“Dulu Genuk itu kegunaannya untuk mencuci orang yang habis dari sawah, dari alas, atau siapa saja yang lewat sini,” kata Devi.

Selain genuk, sosok naga menjadi salah satu unsur utama dalam motif tersebut. Berdasarkan cerita tutur yang berkembang, naga digambarkan memiliki tubuh sangat panjang yang membentang dari Kemiri hingga wilayah Karesidenan.

Masyarakat juga memiliki cerita bahwa setiap satu tahun sekali kepala naga tersebut kembali ke Kemiri. Pada 2026, misalnya, dalam cerita tersebut kepala naga berada di Kemiri, sedangkan ekornya berada di Karesidenan.

Kisah naga itu juga dikaitkan dengan pertunjukan ketoprak. Dalam cerita masyarakat, saat ketoprak digelar, kepala naga dipercaya kembali dan melilit pohon beringin.

Simbol lain yang terdapat dalam motif tersebut adalah macan. Dalam cerita yang berkembang, macan dikaitkan dengan kawasan sebelah selatan ringin.

Sosok macan dipercaya menjadi simbol yang memberikan kesan kuat sekaligus pengingat agar masyarakat menjaga perilaku. Dalam kepercayaan yang berkembang, orang yang berperilaku buruk dipercaya akan diperlihatkan sosok macan, sedangkan orang yang berperilaku baik akan melihat wujud manusia.

Kisah naga dan macan tersebut merupakan bagian dari folklor atau cerita tutur masyarakat yang diwariskan secara turun-temurun.

Asmaradana Batik kemudian mengabadikan berbagai simbol itu ke dalam kain agar cerita yang selama ini hidup melalui tutur dapat dikenal dalam bentuk visual.

Genuk Kemiri juga dikaitkan dengan cerita tentang Adipati Kembangjoyo. Dalam cerita masyarakat, tokoh tersebut disebut memiliki hubungan dengan pembukaan alas Kemiri.

Sebagian masyarakat meyakini kawasan tertentu di sekitar Genuk Kemiri memiliki kedudukan khusus karena dianggap berkaitan dengan tempat pusaka.

Namun, berbagai kisah tersebut merupakan cerita tutur dan tradisi lokal yang berkembang di masyarakat. Karena itu, legenda yang diwariskan secara turun-temurun perlu dibedakan dari catatan sejarah yang telah terverifikasi.

Bagi Asmaradana Batik Pati, mengangkat Genuk Kemiri bukan sekadar membuat motif baru. Ada upaya untuk mengajak masyarakat kembali mengenal cerita dari daerahnya sendiri.

Devi mengatakan, masyarakat Pati perlu mengetahui bahwa daerahnya memiliki kekayaan cerita dan sejarah lokal. Masyarakat dari luar Pati juga diharapkan dapat mengenal sisi lain Kabupaten Pati melalui karya batik.

“Motif tersebut menggambarkan sejarah yang berkembang di masyarakat dengan menghadirkan simbol naga, macan, dan Genuk Kemiri,” jelasnya.

Saat ditanya mengenai Genuk Kemiri sebagai bagian dari kisah cikal bakal Kabupaten Pati, Devi menyebut Genuk Kemiri merupakan salah satu bagian dari cerita yang berkembang di masyarakat.

Melalui Batik Genuk Kemiri, Asmaradana Batik ingin menjadikan kain bukan hanya sebagai produk kerajinan, tetapi juga sebagai media untuk menyimpan cerita lokal.

Motif genuk, naga, macan, dan pohon beringin menjadi simbol yang mengajak masyarakat mengenal kembali kisah Genuk Kemiri.

Dengan demikian, setiap kali motif tersebut dikenakan atau diperlihatkan, ada cerita yang dapat kembali dibicarakan. Mulai dari Genuk Kemiri, Kembangjoyo, hingga berbagai folklor yang berkembang di tengah masyarakat Pati.

Momentum Hari Batik Nasional 2026 pun menjadi kesempatan bagi Asmaradana Batik Pati untuk memperkenalkan kembali identitas lokal melalui karya.

Sebab bagi mereka, melestarikan batik tidak hanya menjaga teknik membatik, tetapi juga merawat cerita yang berada di balik setiap motifnya.

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *