Wartapati.com — Seorang desainer fashion asal Kabupaten Pati, Meyda Dewi Trisbiani, tengah merasakan lonjakan pesanan sejak menjelang Ramadan hingga Februari 2026. Kondisi ini membuat pengusaha muda tersebut harus bekerja ekstra karena jumlah order meningkat signifikan dibanding hari biasa.
Meyda mengungkapkan, peningkatan pesanan mulai terasa sejak awal Februari, seiring datangnya momentum Ramadan yang identik dengan kebutuhan busana baru.
“Februari yang bertepatan dengan Ramadan ini memang terjadi lonjakan. Banyak orang berburu pakaian untuk Lebaran, ditambah pesanan dari vendor yang jumlahnya besar dalam satu perusahaan,” ujarnya.
Menurutnya, lonjakan ini tidak hanya dipicu oleh Ramadan, tetapi juga rangkaian momen setelahnya. Selain busana Muslim untuk Ramadan dan Idulfitri, permintaan juga terus berlanjut pada musim pernikahan pasca-Lebaran.
Ia mencatat, jumlah pesanan pada Februari mencapai lebih dari 100 potong per bulan. Angka tersebut meningkat dibandingkan periode normal.
“Semua orang pasti butuh baju Lebaran. Sebelum puasa sudah mulai persiapan, saat Ramadan banyak event, dan setelah Lebaran masuk musim pernikahan, jadi pesanan datang bersamaan,” jelasnya.
Banyaknya permintaan membuat Meyda harus bergerak cepat dalam merancang desain sesuai kebutuhan pelanggan. Ia menyebut sebagian besar pesanan bersifat custom, baik dari pelanggan individu maupun vendor.
“Biasanya pelanggan membawa referensi sendiri atau kain yang sudah dimiliki, lalu meminta dibuatkan desain. Saya menyesuaikan dengan jenis dan karakter kainnya,” katanya.
Dalam proses perancangan, Meyda menekankan pentingnya menyesuaikan desain dengan berbagai aspek, seperti bentuk tubuh, jenis kain, warna, hingga selera pelanggan.
“Setiap orang punya karakter tubuh dan selera berbeda. Ada model yang tidak cocok untuk tubuh tertentu. Jadi saya bantu menyesuaikan agar hasilnya maksimal,” paparnya.
Sebagai pemilik usaha Meyda Trisbiani Couture, ia mengaku terus meningkatkan kemampuan agar mampu mengikuti tren fashion yang berkembang cepat.
“Perkembangan model sangat dinamis. Saya terus belajar setiap hari untuk meningkatkan kemampuan,” ujarnya.
Produk yang ditawarkan meliputi kebaya, gaun pesta, pakaian rumahan, hingga seragam sekolah. Dalam menjalankan usahanya, Meyda menerapkan dua model bisnis, yakni Business to Consumer (B2C) dan Business to Business (B2B).
Untuk B2B, ia menjalin kerja sama dengan berbagai pihak, seperti vendor persewaan kebaya, event organizer, make up artist, sekolah, hingga perusahaan.
“Relasi yang sudah terjalin sangat membantu. Setiap ada event seperti wisuda, permintaan kebaya biasanya ikut meningkat,” katanya.
Ia menambahkan, kepercayaan pelanggan menjadi kunci utama dalam menjaga keberlangsungan usaha. Dengan menjaga kualitas produk dan layanan, Meyda optimistis bisnisnya akan terus berkembang.










































