PATI — Sungai Juwana di Kabupaten Pati kembali mengering dalam beberapa hari terakhir. Kondisi tersebut berdampak langsung terhadap aktivitas nelayan dan mengancam ribuan hektare lahan pertanian di sepanjang aliran sungai.
Setidaknya 300 nelayan yang menggantungkan hidup dari Sungai Juwana terpaksa berhenti mencari ikan. Di sisi lain, ribuan hektare sawah yang baru memasuki masa tanam juga terancam gagal panen karena kesulitan mendapatkan pasokan air.
Salah satu nelayan asal Desa Banjarsari, Kecamatan Gabus, Suwarno (54), mengatakan kondisi Sungai Juwana yang mengering bukan kali pertama terjadi. Menurutnya, fenomena serupa sudah terjadi dua kali dan selalu berdampak terhadap penghasilan nelayan.
“Dampaknya nelayan semenjak dua tahun ini kurang sekali. Air surut jadi tidak bisa bekerja,” kata Suwarno.
Ia memperkirakan terdapat sekitar 300 nelayan yang beraktivitas di sepanjang Sungai Juwana, mulai Desa Tondomulyo, Kecamatan Jakenan, hingga Desa Kosekan, Kecamatan Gabus.
Menurut Suwarno, sebelum sungai mengering, nelayan rata-rata memperoleh pendapatan Rp50 ribu hingga Rp100 ribu per hari. Ikan yang biasa didapat di antaranya lundu, kutuk, dan jepet dengan hasil tangkapan sekitar lima kilogram per hari.
Kondisi serupa dirasakan petani. Sugiyono (77), petani asal Desa Karangrowo, Kecamatan Jakenan, mengatakan kekeringan mengancam tanaman padi yang baru berusia sekitar satu minggu hingga satu bulan.
“Dampaknya petani semuanya serangan gagal total. Padahal baru umur padi baru satu minggu sampai satu bulan,” ujarnya.
Sugiyono berharap pemerintah segera memberikan tambahan pasokan air dari waduk, salah satunya Waduk Kedung Ombo atau Waduk Logung di Kudus. Menurut dia, ribuan pompa air yang digunakan petani bergantung pada ketersediaan air di Sungai Juwana.
“Kalau bisa dari Kedung Ombo, supaya bisa menangkal kekeringan ini. Irigasi dari sungai ini. Karena air bendung karet mengalir sampai ke Juwana ini. Banyak yang terkuras. Pengelolaan bendung karet harus disesuaikan,” ucapnya.
Ia khawatir jika tidak segera mendapat pasokan air, ribuan hektare sawah di sepanjang Sungai Juwana akan mengalami gagal panen. Kondisi itu berpotensi menimbulkan kerugian besar bagi petani.
Sugiyono mencontohkan, untuk mengelola lahan seluas 0,88 hektare, dirinya membutuhkan modal sekitar Rp13 juta. Jika lahan tersebut disewa, biaya yang dikeluarkan bisa mencapai lebih dari Rp20 juta per tahun.
“Kalau panen Rp35-40 juta, potong biaya produksi tinggal Rp17 juta. Belum tenaga pribadi. Itu tidak dihitung,” katanya.
Sementara itu, Jaringan Masyarakat Peduli Sungai Juwana (Jampisawan), Ari Subekti, mengatakan kekeringan kembali terjadi setelah adanya Bendung Karet di Bungasrejo, Kecamatan Jakenan.
Menurutnya, keberadaan bendung karet belum mampu mengatasi persoalan kekeringan yang terjadi di Sungai Juwana. Kondisi tersebut justru semakin memperbesar ancaman terhadap nelayan dan petani.
“Proyek bendung karet lumpuh tidak berdaya menghadapi kekeringan ini. Tidak mampu menahan kekeringan, tetapi faktanya menjadi ancaman baru bagi nelayan dan petani yang terancam kehilangan modal,” tegasnya.
Ari meminta pemerintah segera mengambil langkah darurat untuk mengatasi kekeringan. Salah satunya dengan melakukan penggelontoran air dari waduk untuk menyelamatkan tanaman padi yang baru ditanam.
“Beberapa tuntutan pertama yang paling darurat, penggelontoran air dari Waduk Logung agar petani tidak berisiko gagal panen. Karena ribuan hektare yang baru tanam,” pungkasnya.








































