PATI – Seorang siswa kelas X SMA Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Kabupaten Pati menjadi korban pengeroyokan yang diduga dilakukan oleh 14 temannya pada Selasa (29/9/2026) malam. Akibat kejadian tersebut, korban harus menjalani perawatan medis di salah satu fasilitas kesehatan di Kabupaten Pati.
Wakil Kepala Kesiswaan Sekolah Rakyat Pati, Fachrudin Dwi Saputro, menjelaskan peristiwa itu terjadi di asrama sekolah setelah para siswa menyantap makan malam dan hendak melaksanakan salat Isya berjamaah.
Hingga kini, pihak sekolah masih mendalami penyebab pengeroyokan yang melibatkan belasan siswa tersebut.
”Kejadiannya itu Selasa malam Rabu. Kemudian kami sudah menawarkan untuk membawa anak ke IGD, fasilitas kesehatan. Kemudian anak memilih untuk istirahat karena memang mungkin merasa badannya kurang enak. Kemudian paginya langsung kami cek dan dirasa memang membutuhkan perawatan medis lebih lanjut, dan kami bawa ke IGD,” tutur Fachrudin, Jumat (9/10/2026).
Berdasarkan pemeriksaan medis, kondisi dada dan rahang korban dinyatakan tidak mengalami masalah. Namun, korban mengalami pendarahan pada gusi yang diduga akibat pukulan. Dokter gigi kemudian merekomendasikan pencabutan salah satu gigi korban.
”Dari hasil rontgen bagian dada itu tidak apa-apa, kemudian rahang juga tidak apa-apa, hanya ada satu penanganan yang dirujuk ke dokter gigi itu ada satu gigi yang harus dicabut. Kemungkinan besar karena pukulan. Lukanya itu gusi-nya berdarah seperti itu, bukan luka yang mengucur banyak gitu bukan, cuma gusinya berdarah,” jelasnya.
Fachrudin menegaskan, pihak sekolah tidak membenarkan segala bentuk kekerasan, apa pun latar belakang yang memicunya. Sekolah juga langsung mengambil langkah pembinaan terhadap 14 siswa yang diduga terlibat dalam pengeroyokan tersebut.
Menurut dia, pendampingan dilakukan untuk menangani persoalan yang terjadi sekaligus mencegah tindakan serupa terulang di lingkungan sekolah.
”Kami langsung memberikan pendampingan, pembinaan. Apapun alasan latar belakangnya, kami tidak membenarkan adanya tindakan kekerasan tersebut,” ujarnya.
Selain pembinaan internal, sekolah melibatkan psikolog untuk memberikan pendampingan kepada para siswa yang diduga melakukan pengeroyokan. Sementara itu, korban saat ini menjalani perawatan di rumah keluarganya.
”14 pelaku yang terlibat. Kami sudah memberikan pendampingan dan pembinaan secara langsung, baik dari internal kami dan dari pihak eksternal, dari psikolog. Kami juga sudah memberikan arahan dari psikolog ke terduga pelaku,” tandasnya.



































