PATI – Proyek penataan kawasan dan pembangunan trotoar di Kabupaten Pati senilai Rp14,3 miliar menuai sorotan. Sejumlah persoalan menjadi perhatian, mulai dari kondisi paving block yang terlihat kusam hingga keretakan di beberapa titik.
Menanggapi kritik dari Komisi C DPRD Kabupaten Pati dan masyarakat, pihak kontraktor bersama Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) memastikan siap melakukan perbaikan terhadap pekerjaan yang dinilai belum memenuhi standar kualitas.
Perwakilan manajemen PT Sempalan, Dimas Ariawan, mengatakan pihaknya terbuka terhadap berbagai masukan dan siap membenahi kekurangan yang ditemukan selama proses pembangunan.
“Apa yang kurang dari kami, ya kita perbaiki. Pada dasarnya kami siap melakukan perapian dan perbaikan,” ujar Dimas saat dikonfirmasi wartawan di lokasi proyek, Kamis (8/10/2026).
Dimas menjelaskan, material yang digunakan dalam pembangunan trotoar tersebut berupa paving Holland dengan pilihan warna merah, hitam, dan natural. Penggunaan material itu, kata dia, mengacu pada dokumen lelang dan perencanaan proyek.
Sebelum dipasang, material harus melalui pengajuan gambar kerja atau shop drawing dan mendapatkan persetujuan dari konsultan pengawas.
“Kami ini penyedia jasa pelaksana. Material yang kami gunakan adalah Paving Holland. Sebelum dipasang, seluruh material harus melalui pengajuan shop drawing dan mendapatkan persetujuan (approval) dari konsultan pengawas. Jadi semua material yang masuk dipastikan baru,” jelasnya.
Terkait paving yang terlihat kusam atau kotor, Dimas menyebut kondisi tersebut terjadi karena pekerjaan masih berlangsung. Sisa adukan semen dan tanah selama proses konstruksi disebut menempel pada permukaan paving.
Ia memastikan pembersihan dan perapian akan dilakukan sebelum proyek diserahterimakan.
Sementara itu, PPK Pelaksanaan dari Balai Penataan Bangunan, Prasarana dan Kawasan Jawa Tengah, Dika Dwi Angga, menegaskan bahwa kualitas pekerjaan harus sesuai dengan spesifikasi teknis dalam kontrak.
Dika memastikan paving yang retak maupun mengalami cacat mutu akan diganti. Ia juga menyatakan pihaknya terbuka terhadap kritik dan masukan dari masyarakat maupun DPRD Kabupaten Pati.
“Untuk paving yang retak atau cacat mutu pasti akan kita ganti. Kami sangat terbuka atas masukan dari masyarakat maupun DPRD Pati,” kata Dika.
Menurut dia, proyek tersebut masih dalam tahap pengerjaan dengan progres sekitar 40 persen. Pembangunan ditargetkan rampung pada 31 Desember 2026.
Ia menjelaskan, pembahasan mengenai material paving telah dilakukan melalui focus group discussion (FGD) pada 2023 dengan melibatkan sejumlah pihak terkait.
Penataan Kawasan Sepanjang 2,5 Kilometer
Dika menerangkan, anggaran sekitar Rp14,3 miliar tersebut digunakan untuk penataan kawasan sepanjang 2,5 kilometer yang terbagi dalam empat segmen hingga kawasan Pasar Puri.
Anggaran itu tidak hanya digunakan untuk pembangunan trotoar, tetapi juga mencakup sejumlah fasilitas pendukung kawasan.
Pekerjaan tersebut meliputi pemasangan paving dan kanstin, pembangunan jaringan listrik bawah tanah untuk penerangan jalan umum (PJU) dan lampu taman, serta pemasangan fasilitas pendukung seperti bollard, kanopi, dan kursi taman.
Proyek itu juga mencakup pemasangan lampu PJU dan lampu khusus pedestrian, pembangunan tempat pengolahan sampah reduce, reuse, recycle (TPS 3R) yang dilengkapi mesin pencacah sampah di sekitar kawasan Pasar Buah Puri, serta pembangunan sistem drainase.
Untuk mengantisipasi genangan, saluran pembuangan air hujan dilengkapi inlet setiap enam meter. Air kemudian diarahkan menuju saluran di bawah trotoar.
Selain penataan fisik, proyek tersebut juga memperhatikan aksesibilitas bagi penyandang disabilitas.
Dika menyebut ketinggian trotoar yang sebelumnya mencapai sekitar 50 sentimeter kini diturunkan menjadi sekitar 15 sentimeter dari permukaan jalan. Area persimpangan dan perempatan juga dibuat lebih landai agar memudahkan pengguna kursi roda dan penyandang disabilitas lainnya.
“Akses untuk rekan-rekan disabilitas kita maksimalkan, terutama di persimpangan dan perempatan jalan elevasinya diturunkan agar lebih mudah diakses,” jelasnya.
Untuk ubin pemandu atau guiding block, Dika memastikan material yang digunakan merupakan material baru. Adapun ubin yang terlihat kotor saat ini akan dibersihkan pada tahap akhir pengerjaan.
“Untuk ubin pemandu (guiding block) disabilitas semuanya menggunakan material baru, dan yang terlihat kotor saat ini akan kita bersihkan pada tahap akhir (finishing),” ujarnya.
Kualitas Proyek Masih Akan Dipantau
Pihak pelaksana menegaskan bahwa berbagai kekurangan yang ditemukan selama pembangunan akan menjadi bahan evaluasi. Material yang rusak atau tidak memenuhi standar mutu harus diganti sebelum pekerjaan dinyatakan selesai.
Selain itu, proyek tersebut memiliki masa pemeliharaan selama satu tahun setelah seluruh pekerjaan rampung dan diserahterimakan.
Dengan target penyelesaian pada akhir Desember 2026, kualitas hasil akhir penataan kawasan dan trotoar senilai Rp14,3 miliar itu masih akan menjadi perhatian hingga seluruh pekerjaan dinyatakan selesai.




































