Beranda Berita Pemerintahan Kudus, Sosiali memerangi Radikalisme Di galakan di Pesantren

Kudus, Sosiali memerangi Radikalisme Di galakan di Pesantren

0
0 0
Read Time1 Minute, 19 Second

WARTAKUDUS Memerangi radikalisme tak boleh setengah-setengah. Sosialisasi pencegahan digalakkan di pesantren. Tak hanya itu, Pemerintah Kabupaten Kudus berencana membuat Perda tentang pencegahan radikalisme.

Hal itu dikatakan Bupati Kudus Hartopo saat kegiatan ‘Optimalisasi Peran Santri dalam Antisipasi Radikalisme’ di Pondok Pesantren Al-Furqon Yanbu’ul Ulum Desa Sidorekso, Kaliwungu, Sabtu (26/3).

Sebelumnya, peraturan pencegahan radikalisme hanya tertuang dalam Perbup. Tepatnya Perbup Nomor 7 Tahun 2014 Tentang Pedoman Pembentukan Tim Terpadu Gangguan Keamanan Dalam Negeri di Kudus. Hartopo menilai pembahasan itu perlu diperdalam dan menjadi Perda sehingga dipandang lebih tinggi di mata hukum.

Dalam bahasannya bersama santri, bupati mewanti wanti agar semuanya mempelajari betul bentuk-bentuk radikalisme. Sehingga tidak terpapar dan menjadi bagian dari radikal. Hartopo meminta santri memperbanyak tabayyun dan terus membuka forum diskusi bersama. 

Kepala Unit Keamanan Khusus Satintelkam Polres Kudus Iptu Subkhan menyetujui hal itu. Ia mengungkapkan oknum radikal pada masa sekarang berupaya menyamakan frekuensi dengan lingkungan yang akan diajak. Sehingga ‘penyamaran’ mereka lebih sulit dideteksi karena membaur dengan lingkungan. 

Oleh karena itu, santri harus memahami upaya provokatif kelompok radikal yang berupaya memecah belah NKRI. Saat ini, kelompok radikalisme gencar memprovokasi melalui postingan di media sosial. Subkhan mengajak santri untuk ikut memerangi radikalisme yang ada di media sosial.

Wakil Ketua DPRD Mukhasiron meminta agar perumusan rancangan Perda segera dilakukan oleh Kesbangpol dan instansi terkait. Sehingga segera dibahas dan dapat dipertimbangkan dalam APBD. Mukhasiron mendukung langkah progresif agar Kudus aman dari radikalisme.

Peserta menyambut baik sosialisasi yang diadakan oleh Kesbangpol itu. Seperti yang dirasakan salah satu santriwati Ina Nasyiatal Laili. Dirinya memahami penyampaian materi anti radikalisme yang menggunakan contoh kongkrit. (wh/dn)

 

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %
Artikulli paraprakNama Ganjar Diusulkan Jadi Nama Bukit Hutan Bambu di Bali
Artikulli tjetërGanjar Kagumi Produk IKM Bali, Dorong Dipasarkan Lewat E-Katalog

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini