Beranda Berita 14 Daerah di Jateng Berstatus Awas Kekeringan, Pati Termasuk Salah Satunya

14 Daerah di Jateng Berstatus Awas Kekeringan, Pati Termasuk Salah Satunya

0
0 0
Read Time1 Minute, 42 Second

JAWA TENGAH – Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menyiapkan sejumlah langkah untuk menghadapi ancaman kekeringan yang diperkirakan masih berlangsung hingga September 2026. Salah satu upaya yang didorong yakni modifikasi cuaca untuk mengurangi dampak kekeringan berkepanjangan.

Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen mengatakan, modifikasi cuaca menjadi salah satu opsi yang perlu didorong untuk mengantisipasi kondisi kekeringan yang terjadi di sejumlah wilayah.

“Dengan harapan ini bisa mengurangi kekeringan panjang di tahun ini,” kata Taj Yasin seusai memberikan mauidhah hasanah dalam acara Dzikro Maulidurrosul Muhammad SAW di Pondok Pesantren Ar Roudloh Babadan, Kecamatan Limpung, Kabupaten Batang, Selasa (25/8/2026).

Dorongan tersebut disampaikan menyusul peringatan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Klimatologi Jawa Tengah yang menetapkan 14 daerah berstatus Awas kekeringan meteorologis untuk periode 21-31 Agustus 2026.

Ke-14 daerah tersebut yakni Demak, Kudus, Grobogan, Jepara, Pati, Rembang, Blora, Sragen, Karanganyar, Purworejo, Klaten, Magelang, Cilacap, dan Wonogiri.

BMKG juga memprakirakan seluruh wilayah Jawa Tengah masih berpeluang mengalami curah hujan rendah hingga akhir September. Sementara itu, awal September dipetakan menjadi fase paling kering.

Menurut Taj Yasin, ancaman kekeringan tidak hanya perlu direspons dengan penanganan jangka pendek, tetapi juga harus menjadi momentum untuk memperbaiki tata kelola air dalam jangka panjang.

Salah satunya dengan memastikan pembangunan infrastruktur dan permukiman tetap menyediakan ruang bagi air untuk meresap ke dalam tanah.

Taj Yasin menyoroti pembangunan kawasan permukiman yang terlalu banyak menggunakan beton. Kondisi tersebut dinilai dapat mengurangi area resapan air dan memperburuk persoalan ketersediaan air saat musim kemarau.

“Ini peringatan buat kita, bahwa ke depan kita harus membenahi infrastruktur tanah kita. Pori-porinya harus diperhatikan,” ujarnya.

Tokoh yang akrab disapa Gus Yasin itu mendorong agar pembangunan perumahan tidak sepenuhnya menutup permukaan tanah dengan beton. Keberadaan sumur biopori dan sumur resapan di lingkungan rumah, menurut dia, juga perlu diperbanyak.

Sementara untuk menangani dampak kekeringan yang sudah terjadi, Pemprov Jawa Tengah melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) menyiagakan armada truk tangki untuk mendistribusikan air bersih kepada masyarakat terdampak.

Koordinasi juga dilakukan bersama pemerintah kabupaten/kota, terutama untuk memastikan ketersediaan air bersih yang layak dikonsumsi bagi masyarakat di wilayah yang mengalami kekeringan.

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini