Beranda Berita Bahan Baku Melimpah, Pemprov Jateng Optimis Wujudkan Pengembangan Obat Asli Indonesia

Bahan Baku Melimpah, Pemprov Jateng Optimis Wujudkan Pengembangan Obat Asli Indonesia

0
0 0
Read Time2 Minute, 39 Second

WARTATIMES SURAKARTA – Guna mewujudkan ketahanan dan kemandirian kesehatan nasional di bidang farmasi, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah terus mendorong peningkatan obat asli Indonesia seperti jamu, obat herbal terstandar, dan fitofarmaka. 

Hal itu disampaikan Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Tengah Sumarno di sela pencanangan jamu, OHT, fitofarmaka, dan sumber pangan lokal di RSUD Bung Karno Surakarta, Kamis (9/6/2022). Menurutnya, upaya ini dapat terwujud lantaran bahan baku obat asli di Indonesia melimpah, sehingga nantinya kebutuhan obat dapat terpenuhi dari dalam negeri.

Sekda mengatakan, tidak sedikit obat-obatan yang diberikan oleh fasilitas kesehatan adalah produk impor dengan bahan baku berasal dari Indonesia. Karenanya melalui pencanangan jamu, obat herbal terstandar (OHT), dan fitofarmaka, Pemprov Jateng mendorong masyarakat peduli pada upaya pencegahan penyakit. Salah satunya dengan senantiasa mengkonsumsi jamu dan obat herbal agar tubuh sehat dan bugar.

“Kita sekarang ini terlalu banyak mengkonsumsi obat-obat kimia dan didorong adanya program BPJS. Jadi masyarakat ketika merasa sakit, sedikit-sedikit langsung ke rumah sakit karena gratis. Kemudian obat-obatan yang didapat adalah obat kimia yang kebanyakan adalah produk impor. Bahkan bahan baku obat-obat impor adalah dari kita (Indonesia),” jelasnya.

Selain mendorong masyarakat peduli pada pencegahan penyakit, pencanangan ini sebagai upaya menindaklanjuti dukungan Presiden RI agar penggunaan APBN/APBD tidak terlalu banyak untuk keperluan impor. Termasuk mengimpor obat-obatan, karena pemenuhan obat kimia bisa diupayakan menggunakan produk dalam negeri dengan memanfaatkan jamu dan obat herbal. 

“Yang menjadi problem terkait fitofarmaka adalah, harus melalui uji klinis untuk bisa menggantikan obat kimia yang selama ini diresepkan. Fitofarmaka itu butuh proses yang panjang. Pertama fitofarmaka kalau sudah uji klinis lalu masuk formularium, kemudian masuk daftar obat yang bisa digunakan di rumah sakit dan puskesmas,” jelasnya.

Pandemi Covid-19 yang melanda sejak 2020, kata dia, menyadarkan masyarakat tentang pentingnya menjaga kebugaran dan ketahanan tubuh dari berbagai ancaman penyakit dengan mengkonsumsi jamu dan obat herbal. Kondisi tersebut berdampak pula pada tingkat konsumsi jamu dan berbagai minuman herbal semakin tinggi pada masa pandemi Covid-19.

“Pandemi Covid-19 telah menyadarkan kita, bahwa kita butuh ketahanan tubuh. Jadi tentu saja konsumsi jamu dan obat herbal menjadi meningkat. Covid-19 itu ada hikmahnya, karena menyadarkan masyarakat supaya menjaga daya tahan tubuhnya selalu kuat dan sehat,” kata Sumarno.

Sementara itu, Direktorat Pengelolaaan dan Pelayanan Kefarmasian Kementerian Kesehatan RI menyampaikan apresiasi terhadap Pemprov Jateng yang terus berupaya mendorong peningkatan penggunaan obat asli Indonesia, termasuk jamu, obat herbal, dan fitofarmaka di berbagai fasilitas kesehatan. 

“Kami sangat mendukung upaya Pemprov Jateng yang mendorong penggunaan obat asli Indonesia. Untuk upaya transformasi kesehatan, kami memang sedang mendorong ketahanan di bidang farmasi  dari sisi peningkatan penggunaan obat asli Indonesia,” kata Direktur Direktorat Pengelolaan dan Pelayanan Kefarmasian Kementerian Kesehatan, Dina Sintia Pamela. 

Ia menjelaskan, pihaknya telah melakukan pengelompokkan obat-obatan. Diantaranya produk jamu yang berkhasiat meningkatkan kebugaran yang digunakan sehari-hari oleh masyarakat, kemudian berkembang dengan pemanfaatan fitofarmaka. Yaitu dilakukan uji klinis pada jamu hingga menjadi produk fitofarmaka yang siap digunakan di fasilitas-fasilitas kesehatan di Jateng. 

“Terimakasih kepada Pemerintah Provinsi Jawa Tengah yang telah memulai dari awal untuk menggunakan fitofarma di fasilitas-fasilitas kesehatan, seperti di rumah sakit dan beberapa puskesmas. Kita harapkan kedepan semakin berkembang. Saat ini terdapat 24 jenis fitofarmaka yang sudah mempunyai izin edar dari BPOM,” katanya. (Jambrong)

 

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %
Artikulli paraprakGuyon Taj Yasin Merasa “Turun Pangkat” Setelah Dampingi Ganjar Pranowo
Artikulli tjetërBangkitkan Ekonomi Pasca Pandemi, Pj Bupati Kampanyekan Gerakan Nglarisi UMKM

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini