Wartapati.com – Desa Kajen, Kecamatan Margoyoso, Kabupaten Pati dikenal sebagai salah satu pusat pesantren tertua di Nusantara. Julukan desa santri di Bumi Mina Tani itu bukan tanpa alasan. Puluhan pondok pesantren berdiri kokoh dan menjadi magnet bagi ribuan santri dari berbagai penjuru daerah untuk menimba ilmu agama.
Akar sejarah kuatnya tradisi pesantren di Kajen tak bisa dilepaskan dari berdirinya Masjid Jami’ Kajen, masjid bersejarah yang menjadi pusat dakwah Syekh Ahmad Mutamakkin atau yang lebih dikenal sebagai Mbah Mutamakkin.
Masjid Berusia Lebih dari Tiga Abad
Masjid Jami’ Kajen didirikan pada tahun 1107 Hijriah atau 1695 Masehi. Meski telah mengalami tiga kali pemugaran pada 1910, 1952, dan 2010, masjid ini tetap berdiri di lokasi yang sama sejak awal pembangunannya.
Keunikan arsitektur Jawa Kuno masih dipertahankan hingga kini. Atapnya berbentuk tumpang tiga yang melambangkan Iman, Islam, dan Ihsan. Dinding serta tiangnya menggunakan kayu jati asli, menghadirkan suasana teduh dan menenangkan.
Interior masjid dipenuhi ornamen klasik, mulai dari lampu gantung antik hingga jam dinding kuno yang menjadi saksi perjalanan panjang sejarahnya. Di dalamnya juga terdapat papan bersurat yang menjadi sengkalan atau penanda tahun berdirinya masjid.
Tak hanya itu, mimbar khotbah dengan ukiran satwa sarat makna filosofis masih terawat. Ukiran dua naga, burung yang mematuk rembulan, hingga gajah yang membawa trisula di antara pepohonan menjadi simbol ajaran karakter bagi para santri.
“Memiliki makna filosofis bahwa santri Mbah Mutamakkin atau anak turunnya harus memiliki pemahaman bahwa untuk menjadi tokoh harus memiliki sifat ular naga yaitu hewan yang mengedepankan tirakat. Mampu menahan hawa nafsu, lapar. Untuk gajah berlambang diri kita memiliki kekuatan yang sangat besar, yang mana mampu melewati rintangan yang ada pada diri kita. Santri Mbah Mutamakkin juga memiliki seperti burung kuntul yang mematuk bulan yang memiliki cita-cita tinggi dan bisa beradaptasi di berbagai medan,” tutur Koordinator Islamic Center Kajen, Mohammad Azwar Anas.
Perjuangan Dakwah dan Pemberdayaan
Mbah Mutamakkin, yang semasa kecil bernama Sumohadiwijaya, lahir di Tuban sebelum akhirnya sampai di Kajen setelah perjalanan panjang menuntut ilmu ke Yaman dan menunaikan ibadah haji di Mekkah. Ia berguru kepada Syekh Zein di Yaman sebelum kembali ke tanah Jawa.
Di Kajen, ia bertemu Mbah Syamsuddin dan mulai menyebarkan ajaran Islam. Masjid Jami’ Kajen kemudian menjadi pusat pengajaran agama sekaligus ruang pemberdayaan masyarakat.
“Tidak hanya sekedar kegiatan rutin ngaji, tapi membahas dinamika yang ada di masyarakat. Jadi masyarakat tempat berkumpulnya adalah masjid. Nanti ditindaklanjuti dengan kajian atau halaqoh,” tuturnya.
Kala itu, masyarakat dihadapkan pada beban pajak dari Pemerintahan Kolonial Belanda dan Kerajaan Kartasura. Situasi tersebut menimbulkan dilema berat bagi warga.
“Jadi saat itu masih era penjajahan Belanda dan juga masa kerajaan Kartasura. Jadi masyarakat kondisinya adalah ketika hasil bumi itu harus membayar pajak Belanda atau Kartasura. Jadi masyarakat serba dilematis kena pajak,” ujarnya.
Alih-alih melakukan perlawanan bersenjata, Mbah Mutamakkin memilih jalan pemberdayaan dan membangun kesadaran kemandirian.
“Mbah Mutamakkin perlawanannya tidak konfontrasi kepada Belanda atau Kartasura. Tapi membangun kesadaran masing-masing dengan cara berdikari, membangun kesadaaran berpikir dan seterusnya. Jadi masyarakat diharapkan mandiri,” ucapnya.
Diadili dan Dibebaskan Raja Kartasura
Popularitas dan pengaruh besar Mbah Mutamakkin sempat menimbulkan kekhawatiran pihak kerajaan. Ia bahkan diadili dengan berbagai tuduhan, termasuk isu memelihara anjing dan dianggap menyimpang.
“Disebar berita hoak bahwa Mbah Mutamakkin wali yang nyentrik. Seperti di masjid ada ukiran hewan dan dikisah Mbah Mutamakkin memelihara anjing. Lalu dikasuskan pemerintahan pada saat itu untuk di sidang. Kasus seperti ini biasanya hukuman dibakar atau dipenggal sepertihalnya Syekh Siti Jenar,” ucapnya.
Namun dalam persidangan, Mbah Mutamakkin memilih diam dan tidak membela diri. Sikap itu justru membuat raja penasaran terhadap ajaran yang dibawanya.
“Terus Mbah Mutamakkin menceritakan ajarannya. Ketika itu sang raja malah bilang ‘untung saya bertanya seperti itu. Terimakasih telah memberikan pengetahuan sepeti itu. Pengertahuan dari mbah-mbahku. Kalau saya tidak belajar dengan panjenengan, mungkin saya akan mati kafir’dan Mbah Mutamakkin dibebaskan dari seluruh dakwaan,” imbuhnya.
Tak hanya dibebaskan, Kajen kemudian ditetapkan sebagai tanah perdikan atau wilayah bebas pajak.
Lahirnya Puluhan Pondok Pesantren di Kajen
Seiring waktu, ajaran Mbah Mutamakkin berkembang pesat. Para santri yang datang dari berbagai daerah mendirikan pondok secara mandiri agar lebih efektif dalam menimba ilmu.
Tradisi ini terus berlanjut hingga kini. Kajen dikenal sebagai kampung pesantren dengan sekitar 90 pondok pesantren dan lebih dari 10 ribu santri yang mondok.
“Pemberdayaan itu terus dilalukan sampai muncul banyak pondok pesantren yang mana pondok pesantren dulu adalah titik kecil pergerakan santri Mbah Mutamakkin dari dzuriyyah beliau memberikan pengajaran kepada masyarakat sekitar. Tapi ada orang luar daerah yang ikut mengaji. Ngajinya malam terus pulang angon, berdagang lagi, waktunya ngaji berangkat lagi. Kemudian dirasa lebih efektif berangakat disitu akhirnya membangun pondokan secara mandiri,” tambahnya.
“Kemudian akhirnya muncul konsep pondok seperti sekarang. Sampai sekarang ada 90an pondok di kajen ini. Santri sekitar 10 ribuan,” pungkasnya.
Hingga hari ini, Masjid Jami’ Kajen bukan hanya menjadi bangunan bersejarah, tetapi juga simbol peradaban Islam di Pati. Dari masjid inilah lahir tradisi pesantren yang menjadikan Kajen sebagai salah satu pusat pendidikan Islam berpengaruh di Indonesia.









































