Beranda Berita Pati Perkuat jejaring perekonomian pesantren, Pusat Studi FISI Ipmafa gelar Zoominar

Perkuat jejaring perekonomian pesantren, Pusat Studi FISI Ipmafa gelar Zoominar

0
0 0
Read Time2 Minute, 7 Second

WARTAPATI Fenomena jual beli online dengan berbagai komoditi perdagangan, kini telah merambah hingga kalangan orang-orang pesantren. Bahkan, banyak Ning dari pesantren besar mampu mengambil peran sentral ,dalam produksi dan pemasaran berbagai komoditi dengan jejaring hingga internasional.

Semua ini tidak lepas dari kesadaran pesantren tentang kebutuhan masyarakat umum, dan keterbukaan pesantren terhadap perkembangan teknologi zaman yang sangat dinamis. Bahwa pesantren hari ini, tidak cukup hanya menghadirkan diri dalam pendidikan ilmu agama, tetapi juga kuat dalam eksistensi era 5,0 dunia global.

Meskipun belum sepenuhnya mampu, akan tetapi pesantren akan tetap mampu eksis dan mengambil perannya sendiri sesuai dengan kekhasan yang dimiliki. Bahkan pesantren tidak perlu menghilangkan identitasnya sebagai lembaga pendidikan Islam yang khusus-tradisional. 

Merespon fenomena ini, Pusat Studi Pesantren dan Fiqh Sosial (PUSAT FISI) IPMAFA menyelenggarakan zoominar dalam rangka memperingati hari santri dan Haul Kiai Sahal (29/10). Zoominar tersebut menghadirkan Ning Nisaul Kamilah, MSI (pendiri Halaqoh Bisnis Online—HBO dan penulis novel DUR) dan Ning Nadia Abdurrahman, Lc (influencer dan entrepreneur muda pesantren) sebagai narasumber

Ning Mila dan Ning Nadia merupakan contoh orang-orang muda pesantren yang telah berhasil memainkan perannya di era 5,0 dalam hal bisnis online dan menjadi influencer dengan ribuan follower (pengikut). Beberapa bagian dari materi yang disampaikan keduanya, adalah tentang keberhasilannya dalam mengambil peran di tengah persaingan khas era 5,0. Keberhasilan itu mereka dapatkan dengan tetap menghadirkan nilai-nilai pesantren, dibarengi dengan keuletan memanfaatkan teknologi. Misalnya Ning Mila, dengan pengalamannya menggerakkan produksi dan pemasaran ekonomi kreatif jaringan HBOnya, Ning Mila telah menemukan kekhasannya tersendiri. Kekhasan gerakan tersebut Ning Mila formulasikan dengan bagaimana mengajarkan cara berbisnis sekaligus berdakwah.

Sementara Ning Nadia, telah menjadi influencer dengan pengaruh besar salah satunya setelah melakukan digitalisasi dakwah cara penghafalan Al Qur’an dengan metode “Lauh” yang diperolehnya semasa studi di Maroko. Ning Nadia telah berhasil melakukan dakwah dengan jangkauan sangat luas tanpa harus melakukan mobilitas untuk menjangkau sasaran dakwahnya, yaitu dengan memanfaatkan teknologi secara tepat guna.

Meskipun acara dilaksanakan secara daring, akan tetapi sama sekali tidak menggurangi antusiasme peserta. Banyak dari peserta yang memanfaatkan kesempatan ini, untuk bertanya langsung tentang kiat praktis menjalankan dan mengembangkan bisnis online dengan segmentasi santri yang masih tinggal di pesantren, ibu rumah tangga, dan mahasiswa. Antusiasme yang tinggi dari peserta salah satunya menunjukkan bahwa bisnis jual beli online dan produk-produk pesantren yang banyak diminati oleh pasar, telah diterima dan menjadi kebutuhan majemuk masyarakat saat ini. Oleh karena itu, pesantren sudah waktunya menghadirkan diri secara lebih kuat dalam mengambil perannya dalam persaingan di era 5,0 ini, yaitu era digital dakwah pesantren dalam berbagai secukupnya. (NS)

 

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %
Artikulli paraprakHadiri Musda IKAL Lemhannas Jateng, Taj Yasin Tunggu Masukan Terkait Masalah Sosial
Artikulli tjetërSafari ke Berbagai Pesantren di Rembang, Kapolri: Polri Butuh Ulama

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini