Makna Substantif Isra` Mi`raj

504
0
Read Time5 Minute, 39 Second

Wartapati.com Segala sesuatu yang terjadi dalam hidup ini adalah simbol, agama juga sekumpulan simbol-simbol dan nilai-nilai penting untuk bekal hidup dan kehidupan ini.

Setiap simbol pasti ada makna dan nilai yang ada di belakangnya. Salah satu simbol terpenting dalam Islam adalah  peristiwa Isra` Mi`raj Nabi Muhammad SAW, (baca QS. Al-Isra`: 1), karena peritiwa ini mempunyai implikasi yang tidak ringan bagi keimanan, ilmu pengetahuan, spiritualitas dan kesadaran tertinggi manusia. Dalam tulisan ini tidak membicarakan kronologis kejadiannya secara urut dan rinci, tapi mencoba menemukan makna terdalam (hikmah) yang substantif dalam peristiwa ini. 

Setidaknya ada dua substansi terpenting dalam Isra` Mi`raj yang patut kita renungkan bersama,

pertama; Nabi Muhammad SAW diperlihatkan oleh Allah SWT tentang kedudukan dan posisi beliau yang termulia dan paling terhormat sebagai pribadi dibanding Nabi-nabi, semua malaikat dan makhluk semuanya,

Tetapi juga ditunjukkan pada makna bahwa manusia adalah makhluk yang paling mulia dan terhormat sebagai puncak segala penciptaan Allah SWT dalam alam semesta ini, yang diwakili oleh sosok Muhammad sebagai manusia.

Kedua; Sholat sebagai hadiah khusus teristimewa yang dianugerahkan Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW dan semua pengikut (ummat) beliau.

Sholat sebagai puncak anugerah setelah perjumpaan antara Nabi dengan Allah SWT, memberi makna bahwa sholat adalah metode khusus bagi ummat Islam untuk berjumpa dan berdialog dengan Tuhannya.

 Kedudukan Nabi Muhammad SAW dan Manusia

Sebelum Isra` Mi`raj didahului beberapa peristiwa menyedihkan dan memilukan yang dialami oleh Nabi, berupa meninggalnya Abu Thalib, paman yang selalu melindunginya. Dan hari berikutnya ditinggal Sayyidah Khadijah, istri dan sandaran terbaik dalam perjuangannya.

Kepergian keduanya, membawa kesedihan mendalam di hati Nabi (`ammul huzni). Disusul peristiwa yang tidak kalah sedihnya dengan kegagalan dan terusirnya Nabi saat meminta perlindungan ke penduduk Thaif, sebagai upaya untuk menghindari siksaan dan ancaman kafir Quraisy yang semakin menjadi-jadi.

Setelah peristiwa-peristiwa itu, Allah SWT menganugerahkan peristiwa Isra` Mi`raj kepada Nabi, seakan-akan memberi penegasan bahwa

“Engkau adalah makhluk mulia dan dimuliakan di bumi, di langit, dan di hadapan Allah SWT Yang Agung”.

Peristiwa ini memberi makna terdalam bahwa hanya Nabi Muhammad SAW satu-satunya mahkluk yang diberi anugerah untuk menyaksikan puncak Kebesaran dan Keagungan Allah SWT dan sekaligus berdialog langsung dengan Tuhannya di tempat yang tidak bisa dijangkau oleh makhluk apapun, bahkan malaikat sekalipun, jauh di atas langit ke tujuh dan melewati Sidratul Muntaha. 

Kemuliaan dan kehormatan kedudukan Nabi sudah ditampakkan saat peristiwa Isra` -Perjalanan Nabi dari Masjidil Haram Makkah menuju Masjidil Aqsha Palestina-, setelah tiba di Baitul Maqdis Nabi menjadi Imam bagi para Nabi saat melakukan shalat bersama.

Dalam peristiwa ini, Allah SWT mengambil sumpah dari para Nabi lain untuk mengimani dan mendukung Rasulullah SAW, ini bisa dibaca dalam Surah Ali Imran ayat 81. Dalam Mi`raj –perjalanan Nabi dari Baitul Maqdis Palestina menuju Sidratul Muntaha- Nabi semakin jelas dan gamblang ditampakkan kemuliaan dan keluhurannya oleh Allah SWT,

Karena Nabi dapat berjumpa dengan Tuhannya tanpa hijab di tempat khusus dalam Singgasa Agung-Nya yang tidak ada satu makhluk pun pernah dan akan memasukinya.

Dialog Nabi dengan Tuhannya terwakili di kalimat awal dalam tasyahhud sholat kita, baik tasyahhud awal maupun akhir.

Peristiwa Mi`raj semakin mengokohkan puncak keimanan dan keyakinan Nabi, sehingga kesedihan, kesusahan, kebimbangan dan keraguan yang timbul dalam menjalankan tugas kerasulan dan kenabian, hanya kecil dan tidak seberapa dibanding Keagungan dan Kekuasaan Tuhannya, Allah Azza wa Jalla. 

Sebelum sampai di atas Sidratul Muntaha, Nabi terlebih dahulu melewati tujuh langit, yang setiap langit dihuni oleh Nabi tertentu;

langit pertama, beliau berjumpa dan bersalaman dengan Nabi Adam, Langit ke dua, dengan Nabi Isa dan Yahya, Langit ke tiga dengan Nabi Yusuf, Langit ke empat dengan Nabi Idris, Langit ke lima dengan Nabi Harun, Langit ke enam dengan Nabi Musa, dan Langit ke tujuh dengan Nabi Ibrahim di Baitul Makmur.

Perjumpaan dan ucapan salam Nabi dengan Nabi-nabi lain tersebut memberi makna bahwa Nabi mendapat restu, pangestu dan doa dari para Nabi sebagai penerus estafet untuk memperjuangkan nila-nilai Ketuhanan yang diajarkan semenjak Nabi Adam sampai Rasulullah SAW berupa nilai-nilai Islam untuk kemaslahatan bersama sampai akhir zaman.

Kedudukan Nabi yang mulia dan terhormat itu tidak hanya sebagai pribadi dengan akhlak mulianya, tetapi beliau juga mewakili manusia, sebagai spesies makhluk paling teristimewa dibanding makhluk-makhluk lain, bahkan jin dan malaikat sekalipun.

Nabi Muhammad adalah manusia biasa yang manusiawi, layaknya manusia-manusia lain; makan, minum, tidur, nikah, dan lain-lain. Kedudukan istimewa manusia itu sudah diisyaratkan dari awal, saat peristiwa sujudnya para malaikat pada Nabi Adam As, setelah diciptakan Tuhan.

Hanya makhluk yang disebut manusia, yang mampu berdialog langsung dengan Allah SWT dalam tempat khusus, yang tidak ada satu makhluk pun yang pernah dan akan ke sana, di Singgasana Agung-Nya. Manusia adalah puncak dari penciptaan alam semesta, selain sebagai hamba juga diberi amanat sebagai pengemban mandataris Tuhan di bumi, khalifatullah fi al-ardhi, melestarikan, memelihara dan mengembangkan kehidupan di jagad raya ini.

Peristiwa Isra` Mi`raj ini memberi isyarat bahwa hanya manusia lah makhluk termulia, teristimewa dan terlengkap yang telah diciptakan oleh Allah Azza wa Jalla.

Sholat sebagai Metode Khusus

Dalam perjumpaan yang tiada ternilai dengan apapun dan tak dapat diverbalkan dengan kata-kata itu, Nabi mendapat hadiah sebuah metode khusus agar setelah Isra` Mi`raj mampu berkomunikasi dan berdialog langsung dengan Allah SWT lewat ibadah ritual, yang dilakukan lima kali sehari, yang bobot maknanya sama persis dengan Isra` Mi`raj itu sendiri. Sholat adalah intisari terpenting dari Isra` Mi`raj Nabi,

Menjadi sebuah perjalanan spiritual puncak seorang hamba. Maka alangkah tepat Nabi bersabda “Shalat adalah Mi`raj-nya orang-orang mukmin”.

Dengan ungkapan ini, Nabi memberi harapan dan semangat bagi ummatnya, bahwa shalat jika dilakukan dengan benar dan sungguh-sungguh, sama halnya sedang ber-Mi`raj di hadapan Singgasana Allah Yang Agung.

Dengan begitu, maka shalat bukan menjadi beban kewajiban, tapi justru menjadi metode dan media perjumpaan spiritual antara hamba dengan Tuhannya, yang pada dasarnya adalah kebutuhan pokok setiap hamba kepada Penciptanya.

Ketika muslim mampu menghadirkan ruh, hati dan dirinya dalam hadrah ilahiyah saat melakukan shalat, maka ia akan mampu menangkap pesan-pesan khusus dari Tuhan, untuk bekal mengarungi kehidupan, sebagai hamba dan khalifah-Nya. Para tokoh-tokoh Sufi hebat hampir semua mengalami dalam Rasa Terdalam/dzauq-nya sebuah peristiwa sakral seolah ber-Mi`raj hadir dalam altar ke-Agungan Hadrah Ilahiyah, salah satunya Imam Ibnu Araby, yang ditulis dalam sebuah karyanya “al-Isra` ila Maqam al-Asra”.

Dengan posisi terpenting Isra` Mi`raj Nabi dan hadiah yang dibawa berupa shalat itu, maka sungguh layaklah semua muslim merayakan hari Isra` Mi`raj ini dengan peringatan tertentu, agar mengingatkan dan memahamkan kembali tentang Kedudukan mulia dan terhormat Nabi Muhammad SAW, hakikat manusia dan sholat sebagai metode dan media terpenting komunikasi dan dialog antara Tuhan dan manusia sebagai hamba dan khalifah-Nya.Penulis M. Zaim Jaelani Wakil Ketua PCNU Kab. Pati

1 0
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleppy
Sleppy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here