Wartapati.com — Yayasan Sahabat Perempuan dan Anak atau Women and Child Crisis Center (WCC) Kabupaten Pati hadir sebagai garda terdepan dalam memberikan perlindungan bagi perempuan, anak, dan penyandang disabilitas yang menghadapi persoalan sosial hingga hukum.
Lembaga yang dipimpin Budi Nugraheni ini menyediakan layanan pengaduan dan penanganan kasus selama 24 jam, dengan fokus utama pada bantuan hukum bagi korban kekerasan dan ketidakadilan.
“WCC ini berfokus pada perempuan dan anak sebagai subjek, dengan objek utama bantuan hukum bagi korban. Namun, kami juga memenuhi kebutuhan lain seperti pendidikan dan kesehatan,” ujar Budi, Sabtu (18/4/2026).
Menurutnya, kehadiran WCC menjadi jawaban bagi masyarakat kurang mampu yang kesulitan mengakses pendampingan hukum, terutama korban kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Pihaknya aktif menjangkau hingga ke pelosok desa untuk memastikan korban mendapatkan perlindungan yang layak.
“Kami mendekati masyarakat yang tidak mampu, karena mereka sering tidak tahu harus ke mana mencari keadilan. Kalau masyarakat mampu bisa menyewa advokat, tetapi bagi yang tidak mampu itu sangat sulit,” jelasnya.
Salah satu kasus yang pernah ditangani WCC terjadi pada 2022 di Kabupaten Pati, melibatkan perempuan disabilitas korban kekerasan seksual oleh perangkat desa di Kecamatan Tayu. Dalam kasus tersebut, WCC tidak hanya memberikan pendampingan hukum, tetapi juga layanan kesehatan, bantuan ekonomi, hingga renovasi rumah korban.
Selain itu, pada 2024, WCC turut mendampingi seorang remaja asal Kecamatan Trangkil yang sempat menjadi sorotan setelah diarak warga karena kasus pencurian pisang di Kecamatan Tlogowungu. Pendampingan yang diberikan mencakup pemulihan mental serta dukungan pendidikan.
Di bidang pendidikan, WCC juga aktif memperjuangkan hak anak berkebutuhan khusus. Salah satu upaya nyata adalah mendorong pemanfaatan bus sekolah untuk transportasi siswa disabilitas menuju Sekolah Luar Biasa (SLB), melalui koordinasi dengan pemerintah daerah dan DPRD.
Awalnya, operasional transportasi ditanggung secara mandiri oleh yayasan. Namun, setelah melalui advokasi, pemerintah daerah akhirnya memberikan subsidi bahan bakar serta honor bagi sopir.
“Fasilitas bus sekolah sangat penting bagi anak disabilitas dari keluarga kurang mampu. Kami mengoordinasikan antar-jemput dari tiap kecamatan ke SLB, karena jumlah anak disabilitas yang ingin sekolah mencapai ratusan,” ungkap Budi.
WCC juga secara konsisten mendampingi kelompok belajar anak berkebutuhan khusus, guna mengembangkan keterampilan mereka. Upaya ini diharapkan mampu membekali anak-anak tersebut agar mandiri di masa depan.
“Pendidikan adalah hak semua anak, baik formal maupun nonformal. Kami ingin memastikan anak-anak dari keluarga kurang mampu tetap bisa mengakses pendidikan dan mengembangkan potensi sesuai keterampilan mereka,” tegasnya.



