PATI– Di pesisir utara Kabupaten Pati, ancaman banjir rob kini bukan lagi sekadar fenomena musiman. Di Desa Tunggulsari, Kecamatan Tayu, air laut terus merangsek ke daratan, merendam rumah warga, melumpuhkan tambak, dan perlahan menggerus harapan masyarakat yang menggantungkan hidup pada sektor perikanan.
Dalam dua tahun terakhir, kondisi desa ini semakin memprihatinkan. Puluhan rumah warga dan seratusan hektare tambak terendam setelah tanggul sepanjang 110 meter jebol dan hingga kini belum mendapat penanganan permanen. Air laut yang datang setiap hari seolah menjadi pengingat bahwa ancaman tenggelamnya desa bukan lagi sekadar kekhawatiran, melainkan kenyataan yang terus mendekat.
Awalnya, banjir rob hanya menggenangi wilayah RT 5/RW 1. Namun kini genangan telah meluas hingga mencapai RT 3/RW 1. Kerusakan tanggul yang tak kunjung diperbaiki diperparah oleh rusaknya ekosistem mangrove di kawasan pesisir, sehingga gelombang laut semakin leluasa menghantam daratan.
Kepala Desa Tunggulsari, Setyo Wahyudi, menjelaskan bahwa banjir rob telah merendam seluruh hunian di RT 5 yang berjumlah 36 rumah. Akibatnya, aktivitas harian sekitar 96 warga di wilayah tersebut terganggu.
“Banjir rob ini sudah terjadi selama dua tahun terakhir. Kondisinya sangat parah, setiap hari rumah mereka terendam air,” ujar Setyo saat ditemui, Jumat (5/6/2026).
Bukan hanya permukiman yang terdampak. Banjir rob juga menghantam sektor ekonomi yang menjadi tulang punggung warga. Sekitar 90 persen masyarakat Desa Tunggulsari bekerja sebagai petambak ikan nila. Kini, lahan yang selama bertahun-tahun menjadi sumber penghidupan perlahan berubah menjadi hamparan air laut.
Dari total 160 hektare tambak ikan nila yang dimiliki warga, separuhnya sudah tidak dapat dimanfaatkan lagi karena terendam rob.
“Dampak lain yang pasti adalah rusaknya lahan-lahan produktif petani tambak ikan nila. Dari total 160 hektare itu, 80 hektare sudah rata dengan air,” beber Setyo.
Kerugian yang ditanggung para petambak pun tidak sedikit. Pada musim panen kali ini saja, nilai kerugian diperkirakan mencapai miliaran rupiah. Angka tersebut belum termasuk kerusakan lahan dan berbagai aset produktif yang ikut terdampak.
“Kalau untuk musim ini, siklus pasang sekarang, diprediksi kerugian petani lebih dari Rp2 miliar. Itu total keseluruhan petani tambak yang terdampak,” ungkapnya.
Di tengah keterbatasan, warga sebenarnya tidak tinggal diam. Pada 2025 lalu, mereka bergotong royong memperbaiki tanggul secara swadaya demi menahan laju air laut. Namun upaya tersebut hanya bertahan sementara. Hantaman ombak yang kuat kembali merobohkan tanggul pada Januari 2026, membuat perjuangan warga seakan kembali ke titik awal.
“Tahun 2025 kami telah melakukan penanggulan secara swadaya. Namun pada bulan Januari lalu sudah kembali jebol dan hilang semua. Dari pemerintah belum ada sama sekali penanganan untuk tanggul tersebut,” terangnya.
Kini, harapan masyarakat tertuju pada pemerintah agar segera turun tangan memberikan solusi konkret. Menurut Setyo, pembangunan kembali tanggul membutuhkan anggaran besar yang sulit dipenuhi oleh kemampuan desa maupun warga.
“Harapan kami pemerintah hadir untuk meninjau, kemudian memberikan kami program yang tepat untuk menanggulangi potensi yang lebih parah dari rob ini,” harap Setyo.
Jika penanganan terus tertunda, dampaknya dikhawatirkan tidak hanya pada sektor ekonomi, tetapi juga keberlangsungan permukiman warga. Ancaman kehilangan rumah dan wilayah tempat tinggal menjadi bayang-bayang yang semakin nyata bagi masyarakat Tunggulsari.
“Kalau ini tidak ada penanganan lebih lanjut dari pemerintah, bukan hanya menimbulkan kerugian di sektor budi daya ikan, tetapi ada potensi hilangnya permukiman di wilayah desa kami,” keluhnya.









































