Beranda Berita Pati Jelang Kupatan, Pedagang Janur di Pati Mengeluh Sepi Pembeli Meski Pasar Ramai

Jelang Kupatan, Pedagang Janur di Pati Mengeluh Sepi Pembeli Meski Pasar Ramai

0
0 0
[the_ad_group id="2190"]
Read Time1 Minute, 31 Second

Wartapati.com – Menjelang tradisi Kupatan, pedagang janur musiman mulai bermunculan di Pasar Juwana Baru, Desa Growong Lor, Kecamatan Juwana, Kabupaten Pati. Mereka memanfaatkan momentum Lebaran yang identik dengan tradisi pembuatan ketupat, khususnya di wilayah pesisir Jawa Tengah.

Berdasarkan pantauan di lokasi pada Kamis (26/3/2026) pagi, belasan pedagang tampak berjajar di sepanjang jalan pertigaan pasar. Mereka menjajakan janur atau daun kelapa muda sebagai bahan utama ketupat, baik dalam bentuk lembaran maupun anyaman siap pakai.

Meski aktivitas pasar terlihat ramai, kondisi penjualan tahun ini dinilai berbeda. Daya beli masyarakat terhadap janur justru mengalami penurunan dibanding tahun-tahun sebelumnya.

[the_ad_group id="3651"]

Salah satu pedagang, Dasri, mengaku tetap berjualan seperti biasa meski situasi pasar tidak seramai sebelumnya.“Setiap Lebaran saya selalu jualan di sini. Tapi tahun ini memang agak sepi,” ujarnya.

Ia menjelaskan, kenaikan harga bahan baku turut memengaruhi penjualan. Saat ini, satu ikat janur berisi 50 helai dijual seharga Rp30.000, naik dari kisaran Rp20.000 per ikat pada tahun lalu. Sementara anyaman ketupat dijual Rp25.000 per 10 buah.

“Kenaikannya sampai Rp10.000 per ikat. Mau tidak mau harga jual ikut naik, tapi untungnya jadi tipis,” katanya.

Menurut Dasri, berkurangnya pembeli juga dipengaruhi perubahan pola masyarakat. Sebagian warga, terutama perantau, telah kembali ke tempat kerja setelah Lebaran sehingga jumlah pembeli lokal menurun.

Hal senada disampaikan pedagang lainnya, Wulandari. Ia menyebut banyaknya pengunjung pasar tidak berbanding lurus dengan transaksi pembelian.“Pengunjung memang banyak, tapi yang beli janur sedikit. Ini saja baru laku lima ikat. Tahun lalu lebih ramai,” ungkapnya.

Tradisi pembuatan ketupat biasanya mencapai puncaknya pada H+7 Lebaran atau dikenal sebagai Lebaran Ketupat. Namun, kondisi tahun ini menunjukkan adanya pergeseran, baik dari sisi permintaan maupun daya beli masyarakat.

Para pedagang berharap penjualan akan meningkat dalam beberapa hari ke depan seiring mendekatnya perayaan tersebut. Meski demikian, mereka tetap mewaspadai fluktuasi harga bahan baku yang dapat berdampak pada keuntungan.

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini