Wartapati.com – Tradisi sedekah laut di Kecamatan Juwana, Kabupaten Pati, kembali digelar meriah pada Minggu (29/3/2025).
Namun, ada yang berbeda dan menjadi sorotan utama tahun ini, yakni penggunaan dua kepala kerbau sebagai bagian utama dalam prosesi larung sesaji.
Prosesi yang dipusatkan di TPI Unit II Desa Bajomulyo ini menjadi simbol kuat rasa syukur para nelayan atas hasil laut yang mereka peroleh sepanjang tahun.
Dua miniatur kapal berisi sesaji, termasuk kepala kerbau, dilarung ke laut lepas sekitar pukul 09.00 WIB, disaksikan masyarakat dan jajaran Forkopimda Kabupaten Pati.
Ketua Panitia Sedekah Laut TPI Juwana Desa Bajomulyo, Suratman, menjelaskan bahwa penggunaan kepala kerbau merupakan inovasi baru dalam tradisi yang telah berlangsung turun-temurun tersebut.
“Biasanya kita menggunakan kepala kambing, tetapi tahun ini para sesepuh menginginkan diganti dengan kepala kerbau agar suasananya lebih berbeda dan lebih sakral,” ujarnya.
Ia menambahkan, perubahan ini bukan tanpa alasan. Selain sebagai bentuk variasi, penggunaan kepala kerbau diharapkan memberikan nilai simbolik yang lebih kuat dalam ungkapan syukur kepada Tuhan.
“Ini baru pertama kali. Ke depan, insyaallah akan terus menggunakan kepala kerbau agar menjadi ciri khas tersendiri bagi sedekah laut di Juwana,” imbuhnya.
Selain kepala kerbau, sesaji yang dilarung juga berisi berbagai perlengkapan tradisional seperti bubur tolak bala, sego buceng, serta aneka hasil bumi lainnya yang melambangkan harapan akan keselamatan dan keberkahan.
Plt Bupati Pati, Risma Ardhi Chandra, yang turut hadir dalam acara tersebut menyampaikan apresiasinya terhadap kelestarian tradisi ini.
Ia menyebut larung sesaji sebagai bagian penting dari identitas budaya masyarakat pesisir.
“Hari ini kita melarung dua kepala kerbau di laut Juwana. Alhamdulillah acara berjalan lancar. Ini adalah tradisi tahunan yang harus terus kita jaga dan kembangkan agar semakin meriah dan membawa dampak positif bagi masyarakat nelayan,” ungkapnya.
Rangkaian Sedekah Laut Juwana sendiri berlangsung selama beberapa hari, mulai dari Jumat hingga Selasa, dengan berbagai kegiatan seperti manakib, pengajian, hiburan dangdut, hingga pertunjukan budaya ketoprak.
Terpisah, Ketua Barisan Muda Nelayan Pantura, Mukit menyatakan, tradisi ini tidak hanya menjadi wujud syukur, tetapi juga memperkuat identitas budaya lokal sekaligus menarik perhatian masyarakat luas.
“Dengan hadirnya dua kepala kerbau sebagai elemen baru, sedekah laut tahun ini diharapkan menjadi tonggak baru dalam pelestarian budaya pesisir di Kabupaten Pati,” ungkapnya.
Ke depan, Mukit yang juga Sekretaris Komisi B DPRD Pati berharap tradisi ini terus berkembang dengan dukungan penuh dari pemerintah, sehingga kesejahteraan nelayan Juwana semakin meningkat seiring dengan hasil laut yang melimpah.









































