Home Berita Pati Perjuangan Perajin Batik Pati, Bertahan di Tengah Modernisasi dan Minim Peminat Lokal

Perjuangan Perajin Batik Pati, Bertahan di Tengah Modernisasi dan Minim Peminat Lokal

0
0 0
Read Time1 Minute, 53 Second

Wartapati.com – Di sebuah sudut Desa Langse, Kecamatan Margorejo, Kabupaten Pati, aktivitas membatik masih hidup dan terus berdenyut. Di tengah arus modernisasi, para perajin dengan telaten mempertahankan warisan budaya yang penuh nilai seni.

Seorang pemuda tampak fokus menggoreskan warna pada selembar kain batik yang terbentang lebar. Dengan kuas kecil di tangannya, ia mengisi motif demi motif dengan penuh ketelitian. Tak jauh dari situ, dua ibu rumah tangga sibuk mengerjakan batik tulis menggunakan canting, mencelupkannya ke dalam malam panas sebelum menorehkannya ke kain.

Di sisi lain, seorang pria paruh baya terlihat melakukan proses pengecapan motif batik. Ia adalah Harsono, pemilik usaha Batik Langse Trisula, yang telah merintis usahanya sejak tahun 2015.

Bukan Sentra Batik, Tapi Berani Memulai

Desa Langse bukanlah daerah yang dikenal sebagai sentra batik seperti Bakaran Wetan atau Bakaran Kulon di Pati. Namun, berbekal pengalaman sebagai perajin batik di luar daerah, Harsono memberanikan diri membangun usaha sendiri di kampung halamannya.

“Saya mulai usaha batik ini sejak 2015,” ungkapnya.

Langkah tersebut bukan tanpa tantangan. Ia harus memperkenalkan batik dari daerah yang belum memiliki nama besar di industri tersebut.

Sempat Terhenti karena Pandemi

Perjalanan Batik Langse Trisula tidak selalu mulus. Saat pandemi Covid-19 melanda, usahanya sempat terhenti total akibat menurunnya permintaan pasar.

Namun, setelah kondisi mulai membaik, Harsono perlahan bangkit. Kini, usahanya kembali berjalan dan tetap eksis di tengah persaingan industri batik yang semakin ketat.

Strategi Bertahan: Kualitas dan Pemasaran

Menurut Harsono, menjaga kualitas batik, baik dari segi motif maupun pewarnaan, menjadi hal utama. Namun, itu saja tidak cukup.

“Batik lokal seperti kami harus punya strategi pemasaran yang tepat agar bisa bersaing,” jelasnya.

Ia mengungkapkan, sebagian besar produknya justru lebih banyak diminati pasar luar daerah, seperti Demak, Jepara, hingga Semarang. Sementara permintaan dari wilayah Pati sendiri masih tergolong minim.

Fokus Batik Cap, Tetap Terima Pesanan Khusus

Untuk produksi, Batik Langse Trisula saat ini lebih fokus pada batik cap guna menyesuaikan kebutuhan pasar yang menginginkan produksi lebih cepat.

Meski demikian, Harsono tetap membuka pesanan batik tulis, walaupun produksinya terbatas karena kekurangan tenaga terampil.

“Untuk batik tulis sementara belum produksi rutin, tapi tetap menerima pesanan,” katanya.

Harga Terjangkau, Siap Bersaing

Dari segi harga, batik produksi Batik Langse Trisula tergolong ramah di kantong. Satu lembar kain batik dibanderol mulai dari Rp80 ribu hingga Rp170 ribu, tergantung jenis dan tingkat kerumitan motif.

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

test