PATI — Kasus dugaan pencabulan terhadap santriwati yang menyeret oknum kiai berinisial AS di Pondok Pesantren Ndholo Kusumo, Kecamatan Tlogowungu, Kabupaten Pati, terus menjadi sorotan publik. Di tengah ramainya pemberitaan dan aksi massa yang sempat terjadi, warga sekitar mengaku tidak menyangka kasus tersebut terjadi di lingkungan mereka.
Suasana di sekitar pondok pesantren putri itu pun berubah drastis dalam beberapa hari terakhir. Aktivitas santri yang biasanya ramai kini mendadak sepi setelah para santri dipulangkan oleh keluarga masing-masing.
Salah satu warga sekitar, Anwar, yang rumah sekaligus toko kelontongnya berada tepat di sebelah pondok pesantren, mengaku terkejut ketika kabar dugaan pencabulan itu mencuat ke publik.
“Baru enam hari ini sepi. Santri kemarin sudah pulang semua, sekarang sudah tidak ada,” ujar Anwar, Sabtu (9/5/2026).
Anwar mengatakan dirinya sama sekali tidak mengetahui adanya persoalan di dalam pondok sebelum kasus tersebut ramai diberitakan. Bahkan, saat massa mulai berdatangan ke lokasi, ia memilih menutup toko demi menghindari keramaian.
“Saya kaget. Tidak ada informasi apa-apa sebelumnya. Tiba-tiba banyak orang datang, langsung saya tutup toko,” katanya.
Menurut dia, AS yang dikenal sebagai pengasuh pondok merupakan sosok yang tertutup dan jarang berinteraksi dengan warga sekitar. Meski dikenal baik, hubungan sosialnya dengan masyarakat dinilai tidak terlalu dekat.
“Ya baik, tapi tidak pernah srawung (bergaul). Tertutup terus,” ungkapnya.
Anwar menuturkan, AS biasanya hanya terlihat saat kegiatan pengajian bersama para santri. Di luar aktivitas itu, lingkungan pondok cenderung tertutup dari masyarakat sekitar.
Warga pun mengaku tidak pernah mencurigai adanya hal-hal janggal sebelumnya. Karena itu, kabar dugaan pencabulan yang kini ditangani aparat penegak hukum membuat masyarakat sekitar benar-benar terkejut.
“Saya kaget. Tidak menyangka ada kejadian seperti ini,” tutur Anwar.
Pantauan di lokasi menunjukkan suasana Pondok Pesantren Ndholo Kusumo kini tampak lengang. Hanya kendaraan warga yang sesekali melintas di depan kompleks pondok pesantren tersebut.
Warga menyebut sebagian besar santri telah dipulangkan ke daerah asal masing-masing, mulai dari wilayah sekitar hingga luar pulau.
“Ada dari Kudus, Jakarta, kemudian juga ada yang di Kalimantan setahu saya,” pungkasnya.
Meski sempat diliputi ketegangan akibat aksi demonstrasi, kondisi di sekitar pondok pesantren kini perlahan kembali normal. Warga kembali menjalankan aktivitas sehari-hari seperti biasa.



