Wartapati.com — Suasana di kawasan Masjid Jami’ Kadilangu, Desa Kadilangu, Kecamatan Trangkil, Kabupaten Pati, dipadati ribuan warga yang larut dalam kemeriahan Festival Kupatan Kadilangu 1447 Hijriah, Minggu (5/4/2026) sore.
Tradisi yang memasuki tahun kedua ini menjadi ruang perayaan budaya sekaligus mempererat silaturahmi masyarakat pasca-Lebaran.
Mengusung tema “Kadilangu Nyawiji: Nguri-uri Budaya, Ngraketke Silaturahmi”, festival berlangsung semarak dengan ragam kegiatan khas masyarakat setempat.
Antusiasme warga terlihat sejak awal acara, saat jalan-jalan desa dipenuhi warga yang ingin menyaksikan rangkaian prosesi.
Kemeriahan dibuka dengan parade gunungan ketupat yang menjadi ikon utama festival. Sebanyak 11 gunungan diarak keliling desa, terdiri dari 10 gunungan hasil swadaya warga dari masing-masing RT dan satu gunungan utama yang disiapkan pemerintah desa.
Gunungan tersebut disusun secara artistik menggunakan ribuan ketupat, lepet, aneka hasil bumi seperti terong, kacang panjang, serta buah-buahan. Hiasan uang kertas mainan turut menambah daya tarik visual dalam arak-arakan yang memancing perhatian warga.
Kepala Desa Kadilangu, Arif Heru Prasetyo, mengatakan festival digelar bertepatan dengan tradisi kupatan pada 15 Syawal. Ia menyebut, partisipasi masyarakat tahun ini meningkat signifikan dibanding pelaksanaan perdana tahun lalu.
“Agenda ini disiapkan untuk meningkatkan kebersamaan dan persatuan, serta menjaga kelestarian budaya. Semuanya mayoritas swadaya dari warga,” ujar Arif.
Puncak acara terjadi saat prosesi perebutan isi gunungan. Setelah doa bersama dipanjatkan di depan masjid dan arak-arakan selesai, warga langsung memadati area untuk mendapatkan bagian dari gunungan.
Suasana sempat riuh dengan aksi saling berebut, namun tetap berlangsung tertib dan penuh kegembiraan.



