Wartapati.com — Rencana kerja sama pengelolaan sampah menjadi briket di TPA Sukoharjo, Kecamatan Margorejo, Kabupaten Pati, hingga kini belum menunjukkan kejelasan. Proyek yang semula digagas bersama PT Afaniel Bintang Energi Indonesia dan perusahaan asal Australia, Infinity Eco Solutions, masih belum terealisasi.
Padahal, program tersebut juga dikaitkan dengan inisiatif pemerintah pusat melalui Kementerian PUPR yang bekerja sama dengan Kementerian Lingkungan Hidup, di mana pengolahan sampah menjadi briket sepenuhnya dibiayai pemerintah pusat, sementara daerah hanya menyediakan lahan.
Kondisi ini mendorong Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Pati untuk mencari alternatif lain. Salah satu opsi yang kini dipertimbangkan adalah pengajuan proyek pengolahan sampah menjadi energi listrik atau Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PSEL) melalui pemerintah pusat.
Kepala DLH Kabupaten Pati, Tulus Budiharjo, mengungkapkan bahwa rencana tersebut akan diajukan melalui skema nasional, termasuk kemungkinan pendanaan melalui Danantara. Menurutnya, konsep ini dinilai lebih menjanjikan untuk penanganan sampah jangka panjang.
“Untuk pengolahan sampah menjadi energi listrik, kapasitas idealnya bisa mencapai 1.000 ton per hari. Sementara volume sampah di Pati saat ini sekitar 250 ton per hari,” ujarnya.
Dengan keterbatasan volume tersebut, Pemkab Pati berencana menggandeng daerah sekitar seperti Kudus, Rembang, dan Grobogan agar kebutuhan kapasitas terpenuhi melalui skema kerja sama regional.
Tulus menambahkan, sejumlah wilayah di Jawa Tengah telah lebih dulu membentuk aglomerasi pengelolaan sampah, seperti Semarang Raya, Pekalongan Raya, Tegal Raya, dan Solo Raya. Untuk wilayah eks Karesidenan Pati, TPA Sukoharjo dinilai paling representatif karena memiliki lahan memadai dan masuk kategori zona industri.
“Lokasi TPA Sukoharjo cukup strategis dan memenuhi syarat untuk pengembangan fasilitas pengolahan sampah skala besar,” jelasnya.
Lebih lanjut, ia menyebut bahwa proyek serupa saat ini tengah memasuki tahap lelang di beberapa daerah seperti Jakarta dan Yogyakarta. Jika program PSEL ini terealisasi, tidak hanya mengatasi persoalan sampah, tetapi juga berpotensi mendukung energi ramah lingkungan.
Bahkan, terdapat wacana pemberian subsidi bagi kendaraan listrik yang menggunakan energi dari hasil pengolahan sampah tersebut.
“Atas peluang ini, kami akan terus mengupayakan pengajuan agar persoalan sampah di Kabupaten Pati bisa tertangani secara menyeluruh,” tandasnya.








































