Wartapati.com — Rencana pembatasan bahan bakar minyak (BBM) oleh pemerintah pusat sebagai dampak gejolak global mulai memicu kekhawatiran di kalangan petani. Di Kabupaten Pati, petani berharap kebijakan tersebut tetap berpihak pada sektor pertanian yang sangat bergantung pada pasokan BBM.
Ketua Serikat Petani Pati, Kamelan, menegaskan bahwa pembatasan BBM berpotensi menghambat aktivitas produksi pertanian. Pasalnya, berbagai alat utama seperti traktor dan pompa air masih mengandalkan bahan bakar jenis solar.
“Ada banyak alat pertanian yang menggunakan solar. Kalau dibatasi tentu akan menyulitkan petani dalam berproduksi,” ujarnya.
Menurut dia, ketergantungan terhadap alat mekanis saat ini tidak bisa dihindari, seiring meningkatnya kebutuhan produksi pangan. Karena itu, kebijakan pembatasan maupun potensi kenaikan harga BBM diharapkan tidak memberatkan petani.
“Kami berharap ada kemudahan akses BBM untuk sektor pertanian,” tambahnya.
Di lapangan, sejumlah petani bahkan mengaku mulai mengalami kesulitan mendapatkan BBM. Selain keterbatasan pasokan, persoalan administrasi juga dinilai menjadi kendala bagi petani untuk memperoleh solar subsidi.
Menanggapi hal tersebut, pihaknya berharap pemerintah daerah melalui dinas terkait dapat memberikan solusi konkret, khususnya dalam mempermudah persyaratan bagi petani.
“Kami berharap ada bantuan dari pemerintah daerah agar petani dimudahkan dalam memenuhi syarat mendapatkan BBM untuk alat pertanian,” katanya.
Ia menekankan, peran petani sangat vital dalam mendukung program ketahanan pangan nasional. Oleh sebab itu, dukungan terhadap keberlangsungan produksi pertanian harus menjadi prioritas.
“Saat ini ketahanan pangan menjadi program unggulan pemerintah. Kami berharap petani juga mendapat perhatian, terutama dalam mengatasi persoalan BBM,” tandasnya.









































