Home Berita Pati Kisah Pasutri Penjual Tempe Asal Pati, Sisihkan Receh Setiap Hari Demi Wujudkan...

Kisah Pasutri Penjual Tempe Asal Pati, Sisihkan Receh Setiap Hari Demi Wujudkan Mimpi ke Tanah Suci

0
0 0
Read Time1 Minute, 51 Second

Wartapati.com – Setiap pagi, aroma kedelai yang difermentasi menguar dari dapur sederhana milik Siti Nafiah (58), warga Dukuh Kedung Panjang, Desa Soneyan, Kecamatan Margoyoso, Kabupaten Pati. Bagi sebagian orang, itu hanyalah tanda dimulainya produksi tempe. Namun bagi Nafiah, aroma itu adalah saksi perjalanan panjang penuh kesabaran menuju impian besarnya: berangkat ke Tanah Suci.

Selama lebih dari 20 tahun, Nafiah menekuni usaha tempe rumahan. Produksinya sederhana, sekitar 8 kilogram per hari, dengan pemasaran terbatas di lingkungan sekitar.

Omzet kotor yang ia dapat pun tak besar, hanya sekitar Rp150 ribu per hari. Namun dari usaha kecil itulah, ia merajut mimpi yang bagi banyak orang terasa begitu jauh.

Di balik kesederhanaan hidupnya, tersimpan disiplin yang tak tergoyahkan. Nafiah rutin menyisihkan sebagian kecil penghasilannya untuk ditabung. Kadang hanya Rp10 ribu per hari, atau sekitar Rp100 ribu dalam sepekan jika kondisi memungkinkan.

“Kalau ada kebutuhan lain ya tidak bisa nabung, tapi tetap diusahakan sedikit-sedikit,” ucap Nafiah.

Perjalanan menabung itu tak selalu mulus. Ada kalanya kebutuhan mendesak, acara sosial, hingga tekanan ekonomi membuatnya harus berhenti sejenak. Namun, ibu tiga anak ini tak pernah benar-benar berhenti berharap.

Pada 2012, dengan penuh keyakinan, Nafiah mendaftarkan diri untuk berhaji. Ia sadar, jalan yang ditempuh akan panjang. Benar saja, ia harus menunggu selama 14 tahun hingga akhirnya kabar yang dinanti datang.

Tahun ini, impian itu menjadi nyata. Nafiah dijadwalkan berangkat haji pada 7 Mei 2026 bersama sang suami, Winoto (65), melalui Asrama Haji Donohudan di Boyolali.

“Senang sekali, tidak menyangka bisa berangkat dari jualan tempe,” ujarnya dengan mata berbinar, menahan haru.

Usaha tempe yang ia jalani bukan hanya mengantarkannya ke Tanah Suci, tetapi juga menjadi tulang punggung keluarga. Dari hasil itu, Nafiah berhasil membesarkan dan menyekolahkan anak-anaknya hingga perguruan tinggi. Kini, anak-anaknya telah mandiri dan bekerja di berbagai kota seperti Kudus dan Demak.

Dengan modal sekitar Rp500 ribu untuk 50 kilogram kedelai yang cukup untuk produksi selama sepekan, Nafiah membuktikan, bahwa usaha kecil pun bisa melahirkan mimpi besar. Dari dapur sederhananya, bukan hanya tempe yang dihasilkan, tetapi juga harapan yang terus tumbuh.

Kisah Siti Nafiah menjadi pengingat bahwa mimpi besar tak selalu dimulai dari langkah besar. Justru dari ketekunan dalam hal-hal kecil, kesabaran menghadapi waktu, dan keyakinan yang tak padam, impian itu perlahan menemukan jalannya.

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

test