Home Berita Pati Dulu Jadi Primadona, Kini Sepi Termakan Zaman, Begini Nasib Pasar Sepeda Lengendaris...

Dulu Jadi Primadona, Kini Sepi Termakan Zaman, Begini Nasib Pasar Sepeda Lengendaris di Pati

0
0 0
Read Time2 Minute, 5 Second

Wartapati.com – Di sudut barat Terminal Induk Pati, di tengah hiruk-pikuk kendaraan yang datang dan pergi tanpa henti, berdiri sebuah pasar yang seakan tertinggal oleh waktu. Bukan pasar sembako, bukan pula deretan pakaian murah meriah. Di tempat ini, yang dipajang adalah sepeda, namun lebih dari itu, yang tersimpan adalah jejak kenangan masa lalu.

Pasar sepeda itu pernah menjadi primadona. Pada era 1980 hingga 1990-an, tempat ini ramai oleh para pencinta sepeda dari berbagai daerah.

Transaksi terjadi nyaris tanpa jeda, dan tawa pembeli serta pedagang menjadi irama yang menghidupkan suasana. Kini, semuanya berubah. Deretan sepeda masih tersusun rapi, tetapi pembeli tak lagi datang seramai dulu.

Siang itu, langit mendung seolah mencerminkan kondisi pasar. Ratusan sepeda, mulai dari sepeda anak, jengki, hingga sepeda gunung berbaris menunggu pemilik baru. Sebagian adalah sepeda bekas yang masih layak pakai, bahkan ada yang tergolong baru. Namun, pengunjung hanya terlihat satu-dua orang, itu pun belum tentu berujung transaksi.

Para pedagang pun lebih sering mengisi waktu dengan bercengkerama. Ada yang tertawa kecil untuk mengusir jenuh, ada pula yang memilih berbaring di bangku bambu, menanti hari berlalu tanpa kepastian.

Salah satu pedagang, Saudi, hanya bisa pasrah melihat kondisi ini. Ia mengenang perjalanan panjang pasar sepeda tersebut yang sempat berpindah-pindah lokasi, mulai dari Pasar Puri lama, kemudian ke kawasan GOR, hingga akhirnya menetap di sisi barat terminal.

“Dulu pedagangnya bisa sampai seratus orang,” ujarnya pelan. Kini, jumlah itu menyusut drastis, hanya sekitar lima belas orang yang masih bertahan. Bahkan, menurutnya, mencari penerus usaha ini pun bukan perkara mudah.

Harapan sempat muncul saat pandemi COVID-19 melanda. Di tengah pembatasan aktivitas, bersepeda menjadi tren yang kembali digandrungi. Dalam sehari, satu pedagang bisa menjual hingga sepuluh unit sepeda. Suku cadang pun sampai harus didatangkan dari luar kota.

Namun, masa itu tak berlangsung lama. Dalam dua tahun terakhir, menjual satu sepeda saja dalam sehari sudah menjadi hal yang sulit. Padahal, harga yang ditawarkan cukup terjangkau, mulai dari Rp100 ribu hingga Rp2 juta. Sepeda jengki, sepeda mini, dan sepeda anak dulunya menjadi favorit pembeli.

Kini, keberadaan sepeda kayuh semakin terdesak. Kehadiran sepeda listrik perlahan menggeser minat masyarakat, terutama di kalangan anak-anak.

“Dulu anak kecil masih banyak pakai sepeda mini. Sekarang sudah beralih ke sepeda listrik,” kata Saudi lirih.

Di tengah kondisi yang kian sepi, para pedagang hanya bisa berharap. Mereka menunggu, barangkali suatu saat tren bersepeda akan kembali bangkit, menghidupkan lagi pasar yang kini nyaris sunyi.

Dengan senyum tipis yang menyimpan banyak cerita, Saudi menutup harapannya. “Semoga pasar sepeda ini bisa ramai lagi seperti dulu,” pungkasnya.

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

test