Home ReneGo KIsah Inpiratif, Ngestiningsih Sosok Ibu Dalam Kesuksesan SMK Farming

KIsah Inpiratif, Ngestiningsih Sosok Ibu Dalam Kesuksesan SMK Farming

223
0
SHARE
SMK Farming
Nug/Wartapati. Kepala Sekolah SMK Farming, Ngestiningsih (berseragam batik) mendampingi siswa-siswinya saat pelajaran ekstrakurikuler membatik, Jumat (22/12).

Wartapati.com Tlogowungu – Perjuangan gigih seorang ibu yang juga merangkap sebagai kepala sekolah dalam perkembangan SMK farming di Pati tak lepas dari peran Ngestiningsih. Perjuangannya mengembangkan sekolah yang membentuk siswa-siswi bermental wirausaha tersebut dijalaninya dengan sungguh-sungguh.

“Saya Ibu dari dua anak, juga sebagai istri, sebagai guru dan merangkap sebagai kepala sekolah. Namun saya sadar bahwa tahapan yang saya lakukan dan menjadi prioritas dalam hidup saya ternyata berubah. Saat muda dulu, semangat menjadi guru seolah-olah semua saya habiskan di situ (sekolah),” kata Ngestiningsih kepada wartapati.com Jumat (22/12).

Namun pemikiran tersebut berubah ketika Ngestiningsih menyadari bahwa dirinya berperan sebagai istri, guru dan kini merangkap sebagai kepala sekolah SMK farming di Tlogowungu, Pati.

Sebagai guru dengan tanggung jawab besar, dia menyadari untuk membentuk kepribadian siswa tak cukup dengan prestasi yang di simbolkan melalui angka. Jauh dari itu, pembentukan mental siap berwirausaha di bidang peternakan dan bercocok tanam ditekankan selama mendidik siswanya.

“Saya di SMK Farming ini bermula dari suami saya yang sudah menjadi bagian dari sekolah ini. Dimana saat ini saya menyadari bahwa tugasnya sudah berganti kepada saya. Mulai mengembangkan jaringan untuk memajukan sekolah berbasis kejuruan. Karena jaringan atau relasi salah satu kunci keberhasilan,” terangnya.

Proses berkembangnya sekolah kejuruan yang berdiri sejak 1987 itu dinikmati dengan kesadaran menjalankan tugas. Sehingga sekolah yang memiliki dua jurusan berwirausaha tersebut kini mulai dikenal masyarakat.

“Dulu yang sekolah disini dari kalangan menengah kebawah. Namun sekarang justru para wali murid yang merasa butuh bahwa anaknya perlu keterampilan menghadapi perkembangan teknologi yang mengalihkan tenaga manusia berganti ke mesin,” imbuh Ngestiningsih.

Dalam proses tersebut, Ngestiningsih sadar bahwa selama menjalankan tugas tak lupa bahwa dirinya sebagai ibu dari anak-anaknya.

Dimaknainya Hari Ibu yang hanya sehari dalam setahun, setidaknya memberi dampak positif bagi yang ingin merayakan. Namun peranan ibu tidak sekali dalam setahun, melainkan setiap hari berjuang sebagai wanita dan juga pekerja.

“Yang saya lakukan ini menjadi kodrat kami. Bersyukur dengan adanya hari Ibu minimal 1 hari dalam satu tahun mengingat ibu, namun yang saya harapkan setiap hari anak saya mendoakan saya sebagai ibu. Juga anak-anak lain yang mendoakan ibunya masing-masing. Saya kira itu lebih berguna,” pungkasnya.[Nug]

Comments

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here