Home Info Pati Petani Desa Kalimulyo Jakenan Keluhkan Jalan Hasil Angkut Pertanian

Petani Desa Kalimulyo Jakenan Keluhkan Jalan Hasil Angkut Pertanian

51
0
SHARE
Desa Kalimulyo Jakenan
Nug/Wartapati. Petani Desa Kalimulyo, Jaken harus memanggul gabah dari sawahnya pada musim banjir ini meniti jalan berlumpur sejauh 1,5 kilometer, Jumat siang (9/2/2018).

Wartapati.com Jakenan – Petani Desa Kalimulyo Jakenan keluhkan jalan hasil angkut pertanian sekitar karena dinilai kurang layak. Terlebih musim hujan ini, jalan hasil angkut pertanian yang belum tersentuh aspal memersulit petani.

“Soal angkutan kalau musim seperti ini ya susah. Soalnya jalannya rusak, pertama harus manggul (gabah) sampai jalan yang lebar ini. (Dari sawah) sekitar 1,5 kilometer, jauh ini. Kalau sampai sini ada angkutan motor,” kata Petani, Supardi warga Rt 3 Rw 1.

Baca juga: Sampah Pohon Berdiameter 80 cm Teronggok Di Sungai Simo Pati-Juwana

Kondisi jalan kurang layak tersebut menyebabkan biaya operasional meningkat dua kali lipat. Belum lagi waktu yang semakin molor untuk mengangkut hasil pertanian melintas jalan becek.

“Tambah biaya transport, ibaratnya ukuran orang 10 menjadi orang 20, tenaga makin lambat karena jalan semakin rusak, biaya tambah. Akhirnya petani gak jadi unutk banyak, ruginya sudah pasti belum lagi terdampak banjir,” imbuhnya.

Talut jalan sekitar persawahan itu pun belum sepenuhnya selesai, hanya sebagian sebagai pembatas jelas antara irigasi dan jalan hasil angkut pertanian.

Sementara itu Kaur Kesra, Muhamad Ismail, mewakili Kades Kalimulyo, menjelaskan selama ini petani memanfaatkan jalan seadanya unutk hasil angkut pertanian. Terdapat dua jalan akses pertanian, yakni dari perbatasan Desa Sidoarum sepanjang 2 kilometer dan di Dukuh Kijingan sepanjang 1 kilometer.

“Jalan desa yang sudah-sudah memanfaatkan jalan ini memang,” kata Kaur Kesra Kalimulyo.

Baca juga: Sampah Kebun, Sumbat Aliran Sungai Simo Jalan Pati-Juwana

Diakuinya banyak petani yang mengeluhkan kondisi jalan angkut hasil pertanian. Terlebih musim hujan ini. Ismail menuturkan membutuhkan anggaran 1 milyar untuk menyelesaikan PR jalan di desanya.

“Untuk jalan angkut pertanian dan poros desa rencana pakai cor. Kalau lorong rumah-rumah warga masih menyelesaiakn talut,” terangnya.

Pembangunan talut yang belum selesai di area persawahan itu menggunakan dana aspirasi.

“Namun yang talut dari hasil aspirasi tahun 2017, penyelesaian menunggu dana desa,” pungkasnya. [NUG]

Comments

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here