Home Info Pati Budaya Petani Desa Banjarsari Butuh Irigasi Secepatnya

Petani Desa Banjarsari Butuh Irigasi Secepatnya

33
0
SHARE
Petani Desa Banjarsari
Nug/Wartapati. Petani Desa Banjarsari, Gabus meninjau pengairan sawahnya, Jumat (4/8).

Wartapati.com Gabus – Petani Desa Banjarsari, Kecamatan Gabus dimana lokasi itu tergolong dalam daerah bencana, kini memerlukan air untuk kebutuhan irigasi dan mandi, cuci, kakus (MCK). Kondisi tersebut semakin mendesak, pasalnya persediaan air bersih hanya bertahan 1-2 Minggu kedepan.

Petani Desa Banjarsari, warga Dukuh Biteng desa setempat, Sudiman (65), hanya mengandalkan irigasi tanaman padi yang baru bersuai 35 hari dari air sungai Silugonggo. Proses pengambilan air mengandalkan pompa, dimana harus menambah biaya bahan bakar minyak untuk mengoprasionalkan pompanya.

Baca Juga : 

“Istilahnya kami meminta hujan. Air sungai pun sudah mulai sedikit, kan ini darurat. kalau tidak pakai air, bisa gagal panen,” ungkap Sudiman di lahan sawah miliknya.

Ia menambahkan, hampir semua petani setempat memiliki pompa air sendiri, karena sering digunakan untuk mengantisipasi kekeringan semacam ini. Biaya operasional pun bertambah lantaran usia selang air hanya bertahan selama dua tahun. Selebihnya, selang harus diganti karena lapuk dan bocor.

“Biasaya sawah dapat air dari waduk. nah kami memohon agar pembukaan pintu debit air waduk secepatnya,” tambah Sudiman.

Sementara itu Kades setempat, Edi Margiyono, menjelaskan, awal Agustus 2017, warganya sudah dilanda kekeringan. Padahal jadwal pembukaan pintu debit air pada September bulan depan. Maka untuk mengantisipasi lebih awal, pihaknya memohon agar pembukaan pintu debit air dipercepat guna mengairi total lahan sawah seluas 97 hektar.

“Satu-satunya jalan yang kami sampaikan dan menjadi harapan adalah cadangan air dari waduk atau wilalung bisa digelontorkan lebih awal dari jadwal yang kemarin disepakati oleh petugas atau dinas yang berwenang, dalam pembukaan air atau cadangan air untuk irigasi. Karena sampai saat ini, jika sampai satu minggu lagi tidak ada proses penggelontoran air, nantinya akan terjadi gagal panen karena kekeringan,” jelas Kades.

Sedangkan untuk kebutuhan MCK warga, biasaya tertangani oleh dinas sosial dan BPBD untuk suplai air bersih kepada warga. Hanya saja, pihak desa belum memiliki penampungan air (Tandon). untuk distribusi air bersih, masyarakat mengandalkan jerigen. Itu pun pembagian air sebatas door to door yang tergolong menyulitkan petugas.

Kades menambahkan, sulitnya air bersih memiliki resiko pada warganya karena sanitasi yang terbatas berpotensi menimbulkan penyakit bagi masyarakat Desa Banjarsari.Nug

Comments

comments