Home ReneGo Njagong Penulis Puncak Makrifat Jawa Teryata Wong Pati

Penulis Puncak Makrifat Jawa Teryata Wong Pati

Penulis Puncak Makrifat Jawa Teryata Wong Pati

profil kang aji

Penulis  Puncak Makrifat Jawa Teryata Wong Pati

Bumi Pati,yo bumi tanah kelahiranku,tanah tuwo, bumi kamardikan sek teryata juga melahiran penulis penulis hebat, dimana ide gagasan pemikiran mereka yang dituangkan ke dalam tulisan membawa pengaruh terhadap pola pikir Masyarakat luas, masyarakat indonesia,dan mungkin juga masyarakat dunia.

Siapa mereka? Di sini kita memakai sudut pandang penulis,yang lahir besar di tanah Pati,tentu banyak kekurangan tentang wawasan, tanpa bermaksud untuk mendewakan atau mengerdilkan siapa pun, penulis di sini hanya ingin memperlihatkan kepada generasi muda anak pati, bahwa orang-orang di sekitar kita pun bisa jadi penulis hebat, maka tidaklah imposibel bahwa kita wong pati pun bisa hebat juga.

Penulis-penulis muda tanah Pati antara lain Ulil Abshar Abdalla,dengan pemikiran pemikiran beliau yang kontroversi,ada Zainul Milal Bizawie pengarang buku Masterpiece Islam Nusantara,Muhaji Fikriono penulis buku Puncak Makrifat Jawa dan masih banyak lagi,Di sini penulis coba untuk mengupas sedikit tentang pengarang buku Puncak Makrifat Jawa, Muhaji Fikriono.

Penulis  Puncak Makrifat Jawa Teryata Wong Pati

Muhaji Fikriono/Adjie Vickry atau Abdurrahman el’Ashiy,adalah pemuda asal Ds Tambahsari kecamatan Pati,lahir pada 16 Maret 1971 dari ayah Asnawi dan Ibu Ayumi, anak kedua dari lima bersaudra,pendidikan dasar di SD Tambahsari.

Setelah tamat SD oleh orang tuanya, Muhaji Fikriono yang akrab dipanggil Kang Aji, diserahkan ke Pondok Pesantren Raudlatul Ulum yang diasuh oleh KH. Ahmad Fayumi Munji,di Desa Kajen-Margoyoso-Pati.Seperti kebanyakan santri pondok,Kang Aji pun ikut mengikuti kegiatan-kegiatan di pondok pesantren. Pendidikan Diniyah serta Tsanawiyah ditempuhnya di madrasah Salafiyah, dan melanjutkan Aliyah di madrasah Mathali’ul Falah.

Ketertariakan terhadap dunia penulisan dimulai saat masih duduk di bangku SLTP. Yaitu dengan menulis di buku catatan hariannya, yang kemudian dibaca teman-temannya, dan di antara mereka ada yang minta dituliskan surat cinta. Sesuatu yang sudah punah di era smart phone sekarang ini. Dari situlah kemudian muncul keberaniannya untuk mengirimkan tulisannya ke majalah sekolah seperti MOP,pada waktu itu. Tentu saja dimulai dari rubrik yang paling ringan seperti sahabat pena, misalnya.

Setelah itu baru tumbuh keberaniannya untuk mengirimkan puisi. Puisi-puisinya pun baru berani dikirimkan ke majalah lokal seperti MOP, Rindang dan Warta NU. Tentu saja lebih banyak yang tidak dimuat ketimbang yang dimuat.

Untuk mengukur seberapa kualitas tulisannya, Kang Aji mengirimkan puisi-puisinya di berbagai sayembara. Puncaknya adalah ketika puisinya yang berjudul Kelahiran Puisi, Puisi Tanah Kelahiran masuk dalam 10 puisi nominasi terbaik pada Lomba Cipta Puisi tingkat Nasional yang diselenggarakan oleh Yayasan Taraju, Padang, Sumatera Barat.

Sayembara yang Dewan Jurinya diketuai oleh Prof. Dr. Mursal Esten di awal tahun 1990 an itu melahirkan para pemenang yang kini menjadi penyair papan atas di negeri ini. Sebagai contoh adalah Warih Wisatsana, Tan Liu I, Gus Tf Sakkai, Agung Bawantara, Jose Rizal Manua dll.

Sejak saat itu kepercayaan diri Kang Aji dalam menulis terus tumbuh. Meski tidak selalu dipublikasikan, Kang Aji terus menerus menulis dan menulis. Paling tidak, ia mencoba menuliskan kembali apa-apa yang telah dibacanya dan menuangkan perenungan terhadap apa-apa yang diamatinya. Ya, tidak ada penulis yang baik yang tidak suka membaca. Dan membaca, kata Kang Aji, senantiasa membukakan gerbang untuk wawasan berikutnya.

Sejak awal, Kang Aji sadar bahwa menjadi penulis di tengah-tengah masyarakat yang tidak suka membaca, tentu tidak mungkin dapat dijadikan sebagai sandaran hidup. Karena itu Kang Aji hanya menjadikan menulis sebagai hobby saja pada awalnya.

Adapun untuk mencukupi kebutuhan hariannya, Kang Aji bekerja serabutan di Jakarta yang menjadi tempat tinggalnya sejak awal tahun 1990 an itu. Hingga satu ketika ada group penerbit cukup besar yang berminat menerbitkan tulisan Kang Aji, yaitu Penerbit Mizan.

Buku Kang Aji yang terbit pertamakali adalah Al-Hikam Ibn ‘Athaillah untuk Semua; Menemukan kesadaran dan pelita hidup dari nasihat Ibn ‘Athaillah yang diterbitkan oleh Penerbit Hikmah (Mizan Group) September 2009, Makrifat Jawa untuk Semua; Menjelajah Ruang Rasa dan Mengembangkan Kecerdasan Batin bersama Ki Ageng Suryomentaram oleh Penerbit Serambi Ilmu Semesta, Agustus 2011, Puncak Makrifat Jawa;

Pengembaraan Batin Ki Ageng Suryomentaram oleh Penerbit Nourabooks (Mizan Group) 2012, dan bersama Abi Badhra Maulana dan Abdullah Wong, dua orang sahabatnya yang selama sekitar tiga tahun mengisi acara AAW di radio Kiss FM Jakarta menulis buku Beyond Motivation diterbitkan oleh Nourabooks Juni 2013.

Sekarang ini Kang Aji tengah mempersiap buku trilogi Kawruh Begja Ki Ageng Suryomentaram yang kemungkinan akan diterbitkan oleh Serambi. Sebagaimana penulis Pramoedya Ananta Tur, Kang Aji juga sepakat bahwa menulis adalah kerja untuk keabadian. “Tanggal lahir Kartini 21 April diperingati setiap tahun di Indonesia sebagai hari kebangkitan kaum perempuan, bukan karena tidak ada wanita yang lebih baik dari dirinya di negeri ini sebelum masa kemerdekaan, tetapi adalah karena Kartini telah menulis,” demikian penegasan Kang Aji.

Comments

comments

3 COMMENTS

  1. ..tambah ilmu terus ——-> ngelmu, angele yen (di Pati, yen = nek) wis ketemu, ketemu supaya ora korupsi, lan liya-liyane…..

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.