Longsor dan Banjir Sudah 16 Titik di Kabupaten Pati, Penyebabnya Tumpukan Sampah di Sungai

120
0
Read Time42 Second

Wartapati.com Pati – Sudah ada 16 titik longsor dan tanggul jebol yang terjadi selama empat pekan ini. Tanggul jebol adalah jumah kasus terbanyak dibanding tanah longsor.

Adapun titik terbanyak dari tanggul jebol di sekitaran Sungai Simo dan Sungai Bapoh. Kepala BPBD Pati Martinus Budi Prasetyo menuturkan tumpukan sampah, terutama sampah kebun menjadi penyebab tersumbatnya aliran sungai.

Faktor lain yakni pengaruh dari curah hujan yang sangat tinggi terjadi di kawasan lereng Muria yang tertahan oleh sampah, akibatnya tanggul tak mampu menahan air dan berakhir jebol.

Travel mahesa pati travel pati jogja

Untuk menanggulangi belasan titik tanggul yang jebol tersebut pihak BPBD Pati sudah bersinergi dengan aparat terkait. Langkah darurat yang diupayakan yakni menyediakan karung untuk diisi tanah atau pasir guna pembuatan tanggul darurat.

Kontributor : Nugroho
Editor : Dianovery


View this post on Instagram

Bupati Haryanto menghadiri launching aplikasi SIPAPAT (Sistem Pengelolaan Potensi dan Administrasi Terpadu) di ruang Penjawi Setda Kabupaten Pati, Selasa (21/1). Peluncuran ini dihadiri Wakil Bupati Saiful Arifin, Sekda, Kepala Dinpermades. Dalam sambutannya Bupati menyampaikan bahwa Pemkab Pati telah memiliki beberapa inovasi guna mendukung program Presiden RI di era 4.0 serta zaman Internet of Thing. "Aplikasi ini tujuannya ialah untuk memudahkan pelayanan di tingkat desa. Hal ini mengingat bahwa desa juga mempunyai undang – undang khusus. Yang mana apabila segala potensi dan kebermanfaatan yang ada di desa dapat dikelola, maka hasilnya akan luar biasa", ucapnya. Guna mendukung keberjalanan aplikasi ini, pihaknya berharap admin aplikasi tersebut mendapat bekal ilmu yang cukup. "Bahkan kalau bisa, kita sinergikan dengan Kominfo. Kita anggarkan dengan DD maupun ADD untuk kedepan dapat melaksanakan pelatihan – pelatihan. Tidak hanya sekadar launching", imbuhnya. Bupati menyebut bahwa ini semua dilakukan karena semata – mata niat baik dalam peningkatan kinerja. Ia mengimbau pada segenap pihak terkait, jangan sampai Kabupaten Pati tertinggal baik dari segi perangkat lunak maupun perangkat kerasnya. "Kita sering menjadi contoh, sering menjadi pemrakarsa, malah ketinggalan dalam pengelolaan. Oleh karena itu dalam sistem informasi jangan sampai ketinggalan", tegasnya. Sementara Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa mengatakan hadirnya aplikasi SIPAPAT (Sistem Pengelolaan Potensi dan Administrasi Terpadu) adalah sebagai salah satu kewajiban penyelenggaraan sistem informasi di desa. Sedangkan Kabupaten Pati merupakan kabupaten yang paling awal dalam penerapannya. "Salah satu kelebihan aplikasi ini ialah, menjdi salah satu aplikasi yang mana dalam pengaplikasiannya dapat dimanfaatkan dari desa yang terintegrasi ke kabupaten", ujarnya. Sudiyono menyebut bahwa aplikasi yang diluncurkan tersebut, cukup satu dalam kebermanfaatannya sehingga penggunaannya lebih efektif dan tidak ganti – ganti aplikasi yang lain. "SIPAPAT bukan dari Proper. Namun aplikasi ini dibangun sejak dua tahun lalu Dan prosesnya tidak gampang dengan jumlah desa sebanyak 401 . #wartapati

A post shared by wartapati.com (@wartapati) on

0 0
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleppy
Sleppy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here