Home ReneGo Njagong Ki Djojodigdo Uran uran Raos Pantja Sila Kawruh Jiwa Pati

Ki Djojodigdo Uran uran Raos Pantja Sila Kawruh Jiwa Pati

Ki Djojodigdo Uran uran Raos Pantja Sila Kawruh Jiwa Pati
wejangan Ki Ageng Suryomentaram dan diterbitkan oleh Panitia Kawruh Jiwa Pati.

wartapati.com Ki Djojodigdo Uran uran Raos Pantja Sila Kawruh Jiwa Pati. Secara sederhana, membicarakan nusantara ataupun Indonesia tentu tak bisa dilepaskan dari membincang tentang Jawa,

membincang Jawa juga tak dapat mengabaikan Kesultanan Mataram, dan begitu ngomong tentang Mataram juga tidak mungkin menafikan ketokohan Ki Ageng Penjawi; yang belakangan menjadi Adipati di Pati Pesantenan dan kemudian berputra Raden Pragola.

Rasanya, memang tak ada sesuatu yang terjadi secara kebetulan di kolong langit ini. Namun, jika kita masih sering terkaget-kaget lho kok begini, lho kok begitu, tidak lain hal itu disebabkan karena kita telah abai terhadap berbagai perkembangan segala sesuatu di sekitar kita.

Dalam era gadget sekarang ini, dimana setiap orang memiliki medianya sendiri-sendiri, sepertinya kita memang mempunyai kebebasan untuk menyiarkan apa saja, termasuk kebohongan. Namun, seberapa lamakah kebohongan bisa dipertahankan di era keterbukaan yang sedemikian transparan sekarang ini?

Juga, kita bisa saja sok-sokan meng-copy paste budaya asing yang kita anggap keren, lantas kita merasa telah menjadi keren karena telah menjiplaknya, dan bla bla bla… Namun, sampai kapan orang dapat bertahan merasa keren hanya dikarenakan menjiplak?

Melalui forum jagong ini saya mengajak diri saya sendiri dan para sedulur sesama wong Pati khususnya, dan siapa saja yang bersedia untuk sama-sama saling jujur. Dalam hal membagi informasi paling tidak.

Biar tidak terlalu bertele-tele, jagong kita yang pertama ini kita buka saja dengan pencarian sosok orang Pati yang barangkali selama ini tidak banyak dikenal oleh orang Pati sendiri. Nama penanya adalah Ki Djojodigdo. Namun siapa nama aslinya saya sendiri juga belum tahu.

Yang baru saya tahu, dia adalah sahabat dekat Ki Ageng Suryomentaram. Yaitu putra Sultan Hamengku Buwana VII Yogyakarta yang melahirkan falsafah hidup Kawruh Begja. Kawruh Begja atau yang belakangan lebih dikenal dengan Kawruh Jiwa

Suryomentaraman, adalah panduan bagaimana semua orang dapat berbahagia dalam artian yang sesungguhnya. Alias tidak hanya mencapai kebahagiaan semu apalagi palsu dalam hidup di dunia ini.

Buku yang ditulis oleh Ki Djojodigdo yang saya dapatkan adalah Uran-uran Raos Pantja Sila yang berdasar dari wejangan Ki Ageng Suryomentaram dan diterbitkan oleh Panitia Kawruh Jiwa Pati.

Bukunya berbentuk tembang macapat yang terdiri dari 14 pupuh (mijil, kinanthi, pucung, gambuh, maskumambang, pangkur, durma, megatruh, dandang gula, sinom, asmaradana, mijil, kinanthi, pucung), dan berjumlah 317 bait.

Pada bait ke-68 dan 69, dalam pupuh pucung Ki Djojodigdo menulis, “Tiyang niku, barang gesang kang satuhu, kang wonten rasanya, kathah sanget warni-warni, dados raos punika kang nama tiyang. Lamun pangguh, rerupan kang kadya manus, nanging tanpa rasa, niku kaki den wastani, golek reca utawi bathang manungsa.”

Terjemahan bebasnya, “Manusia adalah benda hidup yang memiliki beragam rasa alias memiliki rasa yang berlapis-lapis. Jadi, memiliki rasa itulah hakikatnya manusia. Jika tidak demikian, maka jika ada sosok yang menyerupai manusia namun tak memiliki rasa, maka sebutannya adalah patung atau bangkai manusia.”

Monggo para sedulur, barangkali ada yang bisa membantu mencari syukur-syukur bisa memberikan informasi atau petunjuk tentang siapakah sesungguhnya sosok penulis yang memiliki nama pena Ki Djojodigdo itu? Atau, apakah Ki Djojodigdo tersebut merupakan nama aslinya? Mari kita saling berbagi informasi.

Salam…

Comments

comments