Home Berita Nasional Kekurangan Bukan Hambatan Untuk Belajar Huruf Hijaiyah

Kekurangan Bukan Hambatan Untuk Belajar Huruf Hijaiyah

Nug/wartapati.

Wartapati.com Pati – Kaum tuna rungu di Pati juga memiliki wadah tersendiri, yakni berupa komunitas tuli Pati atau Difabel of Community Pati (Dekop). Komunitas yang mempelajari ilmu bahasa ini memiliki hubungan antar anggota yang kuat. Terlebih ketika belajar bersama isyarat hijaiyah menjelang buka bersama.

Dipandu salah satu anggota senior, proses belajar hijaiyah menggunakan isyarat tangan menjadi lebih menarik. Belasan anggota itu menirukan bentuk telapak tangan yang mengisyaratkan satu per satu huruf hijaiyah.

Baca juga: Ikut Ramadhan Camp FPP Insan Cendekia, Peserta Mendapat Ketrampilan Memanah

Ekspresi wajah anggota Dekop tampak senang saat belajar isyarat hijaiyah bersama. Mereka terlihat mudah untuk meniru gerak tangan seperti yang tergambar di baner, mulai dari huruf alif sampai ya’.

Guru SLB sekaligus pendampaing Dekop Pati, Khalida, mengatakan Dekop terbentuk sejak 2008 lalu. Mayoritas anggota berasal dari SLB di Pati yang kini masih berstatus pelajar maupun alumni yang sudah bekerja.

Selain mempelajari isyarat hijaiyah, aktivitas komunitas ini juga belajar Sibi (Sistim Isyarat Bahasa Indonesia)  dan Bisindo (Bahasa Isyarat Indonesia). Materi belajar Bisindo hampir sama dengan umumnya mempelajari Bahasa Indonesia oleh orang normal, yakni mempelajari runtutan memakai bahasa Indonesia untuk percakapan sehari-hari.

“Kalau Sibi itu bahasa isyarat yang lama, karena itu diciptakan oleh orang yang dengar. Kalau Bisindo sekarang di bumingkan karena itu dibuat dari teman tuli sendiri dari bahasa mereka sendiri,” katanya, Kamis sore (31/5/2018).

Khalida menambahkan, ikatan antar anggota Dekop sangat kuat. Hal itu tampak ketika ada event di daerah, dimana anggota Dekop yang ada di luar kota rela pulang ke Pati untuk memeriahkan kegiatan.

Baca juga: Jelang Mudik, Bus dan Supir Bakal Diperiksa

“Sukanya itu kita bisa berbagi dengan teman-teman tuli dan mereka itu komunitasnya sangat kuat banget. Kalau ada event, dari Kudus hingga Bogor yang asalnya dari Pati langsung ngumpul dan banyak. Sedihnya itu mis komunikasi karena bahasa  kita beda,” imbuhnya.

Event rutin belajar bahasa isyarat mereka ada dua kali dalam setahun, yakni perinagtan hari tuli yang jatuh pada Semetember dan hari Disabilitas Internasional pada 2 Desember. [NUG]

Comments

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.