Home Info Pati Budaya Inilah Sejarah Pasar Sepeda Pati Yang Tetap Bertahan Hingga Kini

Inilah Sejarah Pasar Sepeda Pati Yang Tetap Bertahan Hingga Kini

Pasar Sepeda Pati
Nug/wartapati. Komplek pasar sepeda Pati di Pasar Sleko

Wartapati.com Pati – Persatuan Pedagang Sepeda (Perpesda) Pati terletak di Kompleks Pasar Sleko Pati. Wadah persatuan pedagang sepeda itu kini merasakan redupnya penjualan sepeda, meski dulu pernah berjaya di era 80-an ketika baru saja menempati kompleks pasar sleko.

Dulu, di tahun 70-an, Perpesda menempati los di kompleks Gedung Nasional yang sekarang berganti menjadi Gedung Olah Raga (GOR) Pesantenan Pati di Desa Puri, kecamatan kota.

Baca juga: Siswa SLB Pati Adu Kebolehan Lantunkan Adzan

“Awal berdirinya pada tahun 1974 dimasa kepemimpinan pak Mukhtar. Ketika itu masih di GOR yang dulu Gedung Nasional,” kata Ketua Perpesda yang kini menjabat, Sutoyo, Selasa (5/6/2018).

Awal berdirinya Perpesda memiliki 250 anggota, saat itu penjualan sepeda tergolong cenderung stabil. Jumlah anggota saat itu pun mengalami pasang surut. Dulu pedagang mengandalkan pendapatan dari hasil penjualan sepeda.

“Sehari sampai 4 buah sepeda laku terjual. Administrasi berjalan setiap penjualan sepeda. Ada kas juga yang masuk ke Perpesda,” ungkap pria beralamat di Desa Pegandan, Margorejo.

Masih di kepemimpinan Mukthar, kompleks pasar sepeda di Gedung Nasional berpindah ke kompleks Pasar Sleko Pati pada 1980.

Penjualan sepeda meroket pada 1982, dimana saat itu sepeda Federal menjadi primadona pembeli. Sutoyo rata-rata menjual 2-3 sepeda Federal dalam sehari dan memiliki 4 karyawan.

Nug/wartapati. Foto jaman keemasan Perpesda Pati

Kepemimpinan ketua Perpesda oleh Mukthar berakhir pada 1992, dimana digantikan Sarwi melalui rapat pleno internal Perpesda. Selama kepemimpinan Sarwi, program dari Perpesda berjalan tertib, termasuk administrasi jual beli sepeda. Kepemimpinan Sarwi berakhir pada 1995.

“Dulu sampai sekarang kalau mau bergabung menjadi anggota sekaligus pedagang, pertama memiliki modal dan dagangan sepeda dulu. Bayar 50 ribu untuk administrasi. Saat bergabung tidak langsung jadi anggota tetap, tapi harus training dulu setahun untuk menjual sepeda. Kalau dia disiplin bisa menjadi anggota tetap,” ungkapnya.

Baca juga: Gunakan Alat Berat, Lima Ribuan Botol Miras Di Musnahkan Polres Pati

Kepemimpinan Perpesda beralih di tangan Damin sejak 1995-2015. Penjualan sepeda kala itu cenderung sepi karena bersaing dengan sepeda motor yang kian mudah didapat.

Sutoyo sendiri bergabung menjadi anggota Perpesda sejak 1977 sebagai anggota biasa yang berjualan sepeda. Sehingga Dia mengetahui perkembangan Perpesda sejak dulu.

Nug/wartapati Sidang Pleno Perpesda periode tahun 1992-1995

“Dulu satu unit sepeda terjual, mampu untuk menghidupi 3 hari anggota keluarga. Sekarang tidak pasti. Kadang jualan kadang tidak. Teman-teman disini yang jualan 2 kadang tidak. Setoran ke kantor kadang sepi juga. Pernah mau bekerja merantau, tapi karena usia yang sudah tua jadi ya tetap jualan sepeda,” ungkap bapak dua anak itu. [NUG]

 

Comments

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.