Home Info Pati Budaya Cerita Pilu Dibalik Pembuatan Film Saridin

Cerita Pilu Dibalik Pembuatan Film Saridin

SHARE
Film Saridin
Nug/Wartapati. Warga menikmati putaran film Saridin di Alun-alun kota setiap malam.
Wartapati.com Pati – Kelanjutan pembuatan film Saridin, tokoh rakyat jelata asal Pati belum bisa dipastikan. Pasalnya, untuk memroduksi dua film sebelumnya, yakni dengan lakon Saridin Handum Waris dan Saridin Rombang serta film kedua, Saridin Geger Palembang dan Ondo Rante memakan biaya lebih dari Rp. 200juta.
Sutradara Film Saridin, Alman Eko Dharmo, menuturkan, pernah dihubungi penikmat film sejarah Pati, bahwasannya menanyakan kapan pembuatan film bertokoh Saridin asal Kecamatan Kayen dibuat lagi.
Baca Juga :
“Saya jelaskan, jika pembuatan dua film, yakni yang pertama di barat Pulau Mondoloko, Jepara dan yang kedua di Way Kambas, Sumatra memakan biaya yang banyak. Sedangkan untuk film ketiga sudah saya siapkan semuanya, termasuk kostum. Hanya saja biaya dari penjualan kaset di film pertama dan kedua masih minim, belum mencukupi untuk biaya film selanjutnya,” terangnya.
Pria yang akrab disapa Mbah Alman ini merencanakan pada film Saridin berikutnya dengan judul ontran-ontran Cirebon. Tapi kembali lagi terpentok dengan pembiayaan. Untuk memasarkan hasil karya seniman lokal, pihaknya membanderol kaset original Rp. 50ribu.
Meski demikian, baru terjual sekitar 1000 keping kaset, sehingga tidak lebih dari setengah untuk biaya pembuatan film yang kedua. Padahal pihaknya menyiapkan 3000 keping kaset yang siap dipasarkan, dengan harapan bisa menutup pembuatan film ketiga.
Kru pembantu yang merangkap tugas dalam pembuatan film, Sukarman, memasarkan hasil karya di Alun-alun Pati setiap malam. Dengan memanfaatkan fasilitas seperti proyektor dan perlengkapannya, Sukarman memutar film Saridin agar bisa dinikmati masyarakat. Tidak lain dengan harapan bersedia membantu biaya produksi dengan membeli kaset original.
“Toh ini juga sejarah Pati. Bermanfaat bagi masyarakat dan generasi selanjutnya. Dalam penjualan VCD film kedua, ada oknum yang membajak. dijual dengan harga murah. Kami temukan Rp. 15ribu dipasaran dengan kualitas yang buruk, sampul VCD hanya foto kopian saja,” terang pria dengan sapaan Pak Cecep.
Kendati demikian, kru tidak melanjutkan ke ranah hukum, penanganan hanya sebatas memeringatkan dengan teguran tertulis.
Pak Cecep mengatakan, pembeli yang juga penikmat film sejarah lokal berasal dari semua kalangan, tak hanya orang tua (mbah-emabh) saja.
“Anak muda beli, ada juga orang terminal yang ambil dan dijual ke Sumatera dan Kalimantan. Tapi ya itu, tidak bisa dipastikan jika setiap malam ada pembeli di Laun-alun Pati,” imbuhnya.
Walau terbilang masih belum mampu menutup biaya produksi film berikutnya, namun Pak Cecep optimis. Dengan upayanya memasarkan di Alun-alun kota, setidaknya masyarakat tahu sejarah Kabupaten Pati.Nug

Comments

comments