Riwayat Jalan Pos Raya Daendels Yang Membelah Kota Pati

Read Time3 Minutes, 35 Seconds

Sebentar lagi lebaran tiba, dimana para kaum perantau akan kembali ke kampung halaman yang sering disebut mudik.

Tradisi ini menjadi tradisi tahunan yang selalu dinanti-nantikan karena merupakan waktu untuk berkumpul dengan keluarga dan menjadi ajang reuni oleh masyarakat.

Ketika berbicara mudik maka akan identik dengan jalur pantura (Pantai Utara Jawa).

Jalur pantura dulunya merupakan salah satu jalan yang dibangun atas prakarsa Gubernur Jenderal Hindia Belanda Herman William Daendels. Jalan itu dikenal dengan Jalan Pos Raya Daendels (De Grote Postweg) yang membentang dari Anyer sampai Panarukan.

Jalan Pos Raya ini dibangun untuk kepentingan mempermudah mobilitas pasukan tempur Belanda untuk menghadapi ancaman serangan dari Inggris. Selain itu Jalan Pos Raya juga berguna untuk pendistribusian komoditas perekonomian dengan mempersingkat waktu pendistribusiannya.

Jalur itu yang kemudian diperbaiki dan sekarang dimanfaatkan sebagai jalur mudik.

jalan pati juana itu kuambil dari KITLV media yang nla itu dari Peta Karesidenan Japara Rembang tahun 1858

Pembangunan Jalan Pos Raya ini memakan waktu kurang lebih setahun dengan mengorbankan ratusan bahkan jutaan jiwa. Pembangunan Jalan Pos Raya dilaksanakan pada tahun 1808.

Pembangunan jalan ini juga mendapat banyak tentangan dari pemimpin daerah atau bupati di wilayah-wilayah yang dilalui Jalan Pos Raya, seperti: Pangerang Kornel yang menentang pembangunan Jalan Pos di Sumedang.

Pembangunannya menggunakan prinsip ekonomis dengan memanfaatkan jalan yang sudah ada yang kemudian direvitalisasi dan modifikasi. Sedangkan di Pati sendiri kemungkinan adalah jalur yang sebelumnya sudah ada dan dimanfaatkan oleh warga dengan perbaikan yang dilakukan. Perbaikan yang dimaksudkan adalah pengerasana dan pelebaran jalan yang dulu sudah ada.

Menurut tulisan Pramudya Ananta Toer dalam buku Jalan Pos Raya, Daendels tidak membuat baru tetapi memerintahkan untuk melebarkan dan mengeraskan jalan hingga 7 meter.

Jalan Pos Raya juga melewati Pati yang terletak di wilayah Utara Jawa. Di Pati sendiri Pembangunan Jalan Pos Raya dilaksanakan pada zaman Bupati Megatsari III atau Pangeran Aryo yang makamnya terdapat di Surabaya. Kalau melihat daftar bupati Pati kemungkinan besar beliau melakukan perlawanan terhadap kebijakan Daendels melihat letak makamnya yang terpisah sendiri di Surabaya. Bisa jadi beliau menentang pembangunan Jalan Pos Raya tersebut karena mengorbankan banyak rakyat untuk kerja paksa dan keberatannya untuk membiayai pembangunan jalan tersebut.

Selain itu keberadaan dua bupati setelahnya yang hanya menjabat sebentar yaitu Mangunkusumo dan Sosrodiningrat serta kemudian didatangkannya Bupati Pati Tjondronegoro dari Lamongan semakin memperkuat bahwa pada waktu tersebut, Pati menentang dan melakukan perlawanan terhadap Pemerintah Hindia Belanda. Pada waktu itu kebijakan Daendels salah satunya adalah mengangkat pemimpin-pemimpin daerah yang kemudian mendapat bayaran dari Pemerintah Hindia Belanda. Salah satunya pengangkatan Adipati Tjondronegoro dari Lamongan menjadi Bupati Pati.

kebijakan ini tentu saja banyak mendapat tentangan. pertanyaannya mengaoa tidak Trah Megatsari atau salah satu penerus dari Mangungkusumo atau Sosrodiningrat, kenapa harus mengambil bupati dari Lamongan yang boleh dikatakan tidak ada hubungan darah dengan Pati. Tetapi sayangnya sejarah mengenai ini belum banyak untuk dikaji dan sumber-sumber sejarahnya sangat minim.

Terlepas dari awal pembangunnanya yang kontroversial di Pati, dampak dari pembangunan Jalan Pos Raya adalah Pati berkembang menjadi kota modern dengan gaya kebarat-baratan. Setelah pembangunan Jalan Pos Raya, ibukota Karesidenan Japara-Rembang yang awalnya berada di Jepara kemudian dipindahkan ke Pati karena kondisi Jepara yang perekonomiannya semakin menurun. Pati menjadi salah satu pos yang dilewarti dimana kemudian untuk mendukung ini dibangunlah Kantor Pos dan Telegrap.

Hal itu membuat Pati tumbuh menjadi kota yang ramai, dimana kemudian diikuti pembangunan fasilitas umum seperti Kantor Karesidenan dan Rumah Dinasnya, Kantor Pos, sekolah, stasiun, gedung pertunjulkan (Societeit) dan bangunan-bangunan kolonial lainnya. Kalau melihat peta Karesidenan Japara Rembang di tahun 1858, Jalan Pos Raya Daendels yang sekarang menjadi jalan Panglima Sudirman. Hal ini didukung dengan banyaknya bangunan kolonial berupa perkantoran di jalan tersebut.

Bisa disebutkan pembangunan Pati Modern seperti saat ini dimulai pada masa setelah pembangunan Jalan Pos Raya Daendels.

Jalan Pos Raya yang melewati Pati ini memanjang sampai di Juwana menuju Rembang. Menurut Dr. Endah Sri Hartatik, M.Hum dalam penelitiannya mengenai Jalan Pos Raya, Di Juana perjalanan dilanjutkan dengan menggunakan rakit melewati Sungai Juwana yang besar menuju Rembang. Jadi bisa dikatakan awal sebelumnya belum ada jembatan untuk melewati Sungai Juwana.

Masa itu Juwana masih lah Kabupaten yang terpisah dengan Pati. Dengan keberadaan Jalan Pos Raya ini mendorong Pati kemudia menjadi suatu wilayah yang modern dan menjadikan Pati sebagai kota bisnis dan pusat administrasi. Selang berpuluh tahun kemudian setelah pembangunan Jalan Pos Raya Daendels di tahun 1890 an mulai dibangun rel kereta api oleh Samarang Joana Stoomtram Maatschappij (SJS). (Ragil Haryo Y.)

0 0
0 %
Happy
0 %
Sad
0 %
Excited
0 %
Angry
0 %
Surprise

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close